SINDOBatam

Terbaru Metro+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Khawatir Batam Alami Kekeringan, BP Batam Diminta Antisipasi Terjadinya Krisis Air

  • Reporter:
  • Kamis, 21 Maret 2019 | 13:40
  • Dibaca : 180 kali
Khawatir Batam Alami Kekeringan, BP Batam Diminta Antisipasi Terjadinya Krisis Air
Karyawan ATB memeriksa produksi air yang dihasilkan di Waduk Mukakuning, beberapa waktu lalu. Kota Batam yang tak memiliki sumber air mengandalkan waduk tadah hujan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. f agung dedi lazuardi

BATAM KOTA – Kota Batam tak memiliki sumber air bersih selain waduk tadah hujan yang diandalkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Cuaca panas saat ini dan beberapa pekan tak pernah turun hujan, dipastikan membuat sejumlah waduk yang ada mengalami penyusutan.

Hal ini akan memberi dampak terhadap ketersedian air baku di waduk. Terlebih Kota Batam sudah memasuki musim kemarau, untuk itu perlu ada antisipasi dari pemerintah agar tak terjadi krisis air bersih di Batam.

DPRD Kota Batam meminta Badan Pengusahaan (BP) Batam untuk melakukan langkah-langkah untuk mencegah terjadinya krisis air. Ketua Komisi III DPRD Batam, Nyanyang Haris Pratamura mengaku sudah berkoordinasi dengan BP Batam dan PT Adhya Tirta Batam (ATB) terkait ketersediaan air di Batam. Terlebih lagi beberapa hari belakangan banyak keluhan dari masyarakat di Tanjunguncang dan sekitarnya karena air tidak mengalir.

“Intinya kami berharap ada langkah-langkah antisipasi dari BP Batam dan stake holder yang ada. Mengingat air ini merupakan kebutuhan utama bagi kita semua,” ujarnya, Rabu (20/3).

Pihaknya juga menyinggung terkait dengan Waduk Tembesi yang belum difungsikan sampai saat ini. Hal ini karena air di waduk tersebut belum memenuhi standar mutu, dan perlu dilakukan penggalian kembali sebelum dikelola menjadi air bersih. Namun berharap BP Batam bisa segera melakukan upaya agar waduk bisa dikelola.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk sama-sama menjaga kawasan daerah tangkapan air yang ada di Batam. Selain itu tidak melakukan pencemaran-pencemaran ataupun melakukan aktivitas di sekitar waduk yang dapat merusak lingkungan. “Batam tidak punya sumber mata air, karena itu kita harus sama-sama menjaga,” katanya.

Kasubdit Humas BP Batam, Muhammad Taofan mengatakan, dibutuhkan kerja sama semua pihak untuk menjaga ketersedian air di Batam. Terlebih beberapa pekan ini hujan tidak turun sehingga sangat berdampak terhadap ketersedian air baku di waduk. Dan sudah dipastikan akan mengalami penyusutan.

Pihaknya juga mengimbau kepada masyarakat untuk bijak menggunakan air bersih, dan dapat menggunakan air secukupnya. Karena tanpa ada dukungan masyarakat akan sulit untuk menjaga ketersediaan air.

“Batam tidak memiliki sumber mata air, sehingga sangat bergantung dengan air hujan,” ujarnya.

Terkait upaya BP Batam, Taofan mengatakan dari awal BP Batam sadar bahwa air merupakan kebutukan utama, baik untuk masyarakat ataupun mendukung investasi. Karena itu berbagai upaya untuk menjaga ketersedian air terus dilakukannya.

Satu di antaranya adalah dengan membuat waduk-waduk baru seperti Waduk Tembesi, meskipun saat ini belum difungsikan tapi sudah masuk dalam persiapan lelang. Sehingga ia memastikan dalam waktu dekat waduk tak jauh dari Jembatan Barelang ini akan menjadi sumber baru air di Batam.

“Kemudian BP Batam melalui bantuan dari Kementerian PUPR juga sudah membangun Waduk Seigong yang ditargetkan beberapa tahun ke depan bisa difungsikan. Kalau ditanya upaya kami seperti apa, kita tidak pernah berhenti untuk mencari alternatif-alternatif sumber air yang baru,” katanya.

Seperti diketahui, BP Batam seharusnya sudah memulai tahapan tender pengelolaan waduk Tembesi. Namun menyusul kebijakan pemerintah yang mendudukan Wali Kota Batam ex-officio Kepala BP Batam, proyek ini ditunda. Penundaan ini diprediksi akan berimbas pada ketersediaan air bersih di Batam.

Ketersediaan air baku di Batam sangat mengandalkan air tadah hujan di sejumlah waduk. Saat ini terdapat enam waduk di Batam, yakni Waduk Nongsa, Waduk Seiharapan, Waduk Seiladi, Waduk Mukakuning, Waduk Tanjungpiayu dan Waduk Duriangkang.

Presiden Direktur PT Adhya Tirta Batam (ATB) Benny Andrianto mengatakan, pihaknya tidak mau terlibat dalam permasalahan yang terjadi saat ini. Hanya saja, jika sampai tahun depan Waduk Tembesi belum juga dikelola, sudah pasti akan berdampak terhadap ketersediaan air bersih untuk bisa memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Terutama yang berada di wilayah Tanjunguncang dan sekitarnya. Kalau Waduk Tembesi tidak segera difungsikan dampaknya sudah pasti ada,” ujarnya, beberapa waktu lalu.

Ketersediaan air di Batam saat ini sekitar 300 liter/detik, sehingga dalam jangka panjang Batam butuh penambahan pasokan untuk air baku. Karena itu, hal ini juga yang tengah dipersiapkan ATB. Kendati konsesi akan berakhir pada tahun 2020 mendatang, pihaknya mengaku tetap profesional dan memberikan pelayanan kepada masyarakat, khususnya pelanggan ATB.

ATB berharap pemerintah pusat bisa segera mengambil keputusan tegas terkait permasalahan di Batam. Sehingga lelang Waduk Tembesi yang tertunda ini bisa segera terealisasi dan dikelola dengan baik oleh pemenang tender nantinya. Sehingga paling tidak bisa menjaga pasokan kebutuhan air bersih dalam jangka beberapa tahun ke depan.

“Tentu kami berharap tahun depan tahapan tender bisa dilakukan dan Waduk Tembesi bisa difungsikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan air bersih,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Kantor Pengelolaan Air dan Limbah BP Batam Binsar Tambunan mengatakan, kebutuhan air bersih di Batam ke depan akan meningkat signifikan seiring dengan pengembangan Batam. Hingga 2045 mendatang, diproyeksikan kebutuhan air di Batam sekitar 7.081 liter per detik. Sehingga BP Batam perlu melakukan antisipasi untuk mencari sumber mata air baru.

“Konsumsi air saat ini konsesi dengan ATB (Adhya Tirta Batam) per hari itu kebutuhannya 170 sampai 180 liter per orang per hari. Asumsi ini di 2045 akan meningkat sebesar 200 sampai 300 liter per orang per hari,” kata Binsar, belum lama ini.

Ia melanjutkan, saat ini ketersediaan air yang ada sebesar 3.800 liter per detik. Untuk kebutuhan di Batam, Rempang dan Galang yang menjadi satu kesatuan wilayah, dan setiap pulau mesti memenuhi kebutuhan air di daerahnya masing-masing. Saat ini di Batam ada enam waduk. ahmad rohmadi

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com