SINDOBatam

Hattrick+

Jungkir Balik+

Lokalisasi di Bintan Akan Ditutup

  • Reporter:
  • Jumat, 13 Juli 2018 | 10:01
  • Dibaca : 77 kali
Lokalisasi di Bintan Akan Ditutup
Kasi Rehabilitasi Dinsos Kabupaten Bintan, Sumiati memberikan sosialisasi rencana penutupan lokalisasi di klinik Kampung Bukit Indah Km 24, Kamis (11/7). f novel m sinaga

BINTAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bintan akan menutup dua kawasan lokalisasi, yakni lokalisasi Bukit Indah di Km 24 dan Bukit Senyum Km 88. Meski sudah mensosialisasikan hal ini, namun rencana penutupan lokalisasi mendapat penolakan dari warga sekitar.

Penutupan lokalisasi ini merupakan program pemerintah yang direncanakan sejak dua tahun lalu. Pada tahun 2015 lalu, wacana penutupan lokalisasi di Bintan sudah pernah dimulai namun terhenti dikarenakan kurangnya anggaran atas pelaksanaan program pusat melalui Kementrian Sosial (Kemensos).

Penutupan lokalisasi baru bisa dilaksanakan pada tahun ini, dan Pemkab Bintan mulai gencar menggelar sosialisasi ulang kepada warga setempat di dua lokalisasi yang ada di Bintan, yakni di Bukit Indah Km 24 Toapaya Asri, Kecamatan Toapaya dan di Lokalisasi Bukit Senyum, Km 88 Desa Lancang Kuning, Tanjunguban

“Program ini sebenarnya sudah pernah dimulai, namun terhenti akibat defisit anggaran saat itu. Ini program Joko Widodo di tahun 2014 lalu,” kata Kepala Seksi Rehabilitasi Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Bintan, Sumiati saat sosialisasi penutupan lokalisasi di klinik Kampung Bukit Indah Km 24, Kamis (11/7/2018).

Menurut dia, sosialisasi yang dilakukan berupa pemahaman kepada warga setempat mulai dari dampak kesehatan yang dipaparkan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) hingga dampak sosial yang disampaikan Dinsos. Ia menambahkan, para warga nantinya akan diberikan keterampilan dalam bidang pekerjaan lain guna penopang mata pencariannya setelah tidak lagi menjadi pekerja seks komersial (PSK) di lokasi tersebut.

“Kami berikan keterampilan bagi mereka yang ingin tetap bertahan di sini. Biaya pemulangan ke kampung halaman juga akan kami fasilitasi jika mereka memilih pulang kampung,” ujarnya.

Rencana penutupan lokalisasi ini mendapat penolakan dari sebagian besar warga yang bermukim di kawasan lokalisasi Km 24 Kelurahan Toapaya. Warga menilai langkah pemerintah tidak tepat, karena sangat berdampak langsung terhadap perekonomian warga sekitar.

Pengakuan dari sebagian warga, mereka dapat tawaran dari pemerintah yang ingin memberikan santunan sebesar Rp3 juta terkait rencana penutupan lokalisasi. Namun warga menilai santunan tidak cukup membiayai kehidupan mereka bila kawasan tersebut ditutup. “Mana cukup (Rp 3 juta), di sini jauh dari segala akses ekonomi. Yang jelas kami tidak setuju,” kata salah seorang warga setempat.

Ketua RW 003 Kelurahan Toapaya, Abdul Manaf menyampaikan, jika warga tidak ingin menghalang-halangi rencana pemerintah untuk menutup kawasan tersebut. Hanya saja, dampak-dampak yang ditimbulkan pascapenutupan harus dipikirkan secara serius terutama berkaitan dengan sektor perekonomian masyarakat.

Ia mengatakan, kawasan yang berada jauh dari pemukiman ini sangat tidak terjangkau dengan aksebilitas ekonomi. Sehingga kalau lokalisasi ditutup, warga dinilai sulit mengakses ekonomi seperti kebanyakan masyarakat yang hidup di luar lokalisasi.

“Di sini mau berdagang apa, lokalisasi ini jauh dari akses orang. Jadi tujuan orang ke sini, ya hanya karena semata-mata untuk hiburan saja. Kalau ini ditutup, bagaimana nasib warga yang berjualan di sini,” jelasnya.

Manaf berharap pemerintah untuk memikirkan secara serius dari berbagai sisi bila rencana penutupan lokalisasi dipaksakan juga harus terealisasi. Sebab, sebagian besar warga yang ada di lokalisasi adalah warga biasa yang menumpang hidup di kawasan lokalisasi. “Kalau mau tutup, ya silahkan. Relokasi kami keluar. Karena kalau tidak begitu, di sini tidak ada akses ekonomi,” katanya.

Ia mengatakan, keinginan pemerintah yang ingin menutup lokalisasi juga tidak mutlak bisa menghilangkan praktik prostitusi. Sebab, sebagian besar lokalisasi yang pernah ditutup tidak juga menghilangkan aktivitas prostitusi di daerah itu.

“Di Dolly (eks lokalisasi Surabaya) itu hanya tempatnya saja yang ditutup. Aktivitasnya kan tidak. Mungkin pemerintah bisa mengganti namanya jangan lokalisasi lagi, tapi Bintan 24 Entertaiment,” sarannya.

Lurah Toapaya Asri Nepy Purwanto yang dikonfirmasi terkait adanya penolakan warga terkait rencana penutupan lokalisasi Km 24 menyampaikan, pihaknya akan mengakomodir permasalahan ini.

Pihaknya nanti akan menggelar pertemuan dengan masyarakat dan akan menyampaikan ke pimpinan sebagai pembanding laporan yang disampaikan Dinsos. Menurutnya, rencana penutupan lokalisasi seperti buah malakama. “Ditutup salah, tak ditutup juga salah,” kata Nepy. novel m sinaga

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com