SINDOBatam

Hattrick+

Jungkir Balik+

Pelanggaran Zona Tangkap Ikan di Anambas, Wantimpres Carikan Jalan Keluar

  • Reporter:
  • Jumat, 20 April 2018 | 12:09
  • Dibaca : 95 kali
Pelanggaran Zona Tangkap Ikan di Anambas, Wantimpres Carikan Jalan Keluar
Watimpres menggelar pertemuan dengan nelayan anambas di ruangan aula kantor bupati, kemarin. /jhon munthe

ANAMBAS – Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) turun ke Anambas untuk mencarikan jalan keluar atas polemik kapal nelayan yang melanggar zona tangkap 12 mil.

Sementara Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Kepulauan Anambas meminta agar kapal pukat mayang tidak beroperasi lagi di perairan kabupaten ini. HNSI menilai ada mafia perikanan yang bermain sehingga menyebabkan perekonomian nelayan lokal semakin merosot. “Kami bisa membuktikan adanya kapal besar yang melanggar zona tangkap 12 mil sesuai dengan aturan. Akibatnya nelayan lokal semakin menjerit karena penghasilan menurun sampai 60 persen,” kata Sekretaris DPC HNSI Kabupaten Kepulauan Anambas, Dedy Sahputra, Kamis (19/4/2018).

Dedy menambahkan akibat kapal lokal tersebut menjaring ikan sampai di bawah 12 mil berdampak terhadap nelayan tradisional yang menggunakan alat pancing ulur. Bahkan kapal pukat mayang tersebut membuat rumpun ikan di sekitar lokasi penangkapan ikan nelayan Anambas.

“Kalau hal ini dibiarkan maka anak ikan akan habis. Nelayan Anambas tidak akan mendapatkan ikan karena anak-anak ikan sudah habis dijaring oleh pukat mayang,” ujarnya.

Mendengar penjelasan HNSI itu, Watimpres langsung menanyakan kepada personel TNI AL yang hadir. Kapten Laut (P) Adi Poetra Sitanggang? mewakili TNI AL mengatakan laporan yang disampaikan ada yang benar namun ada yang tidak. Dia juga menegaskan, fungsi TNI AL berkaitan dengan menjaga keamanan, khususnya di laut.

“Memang ada kapal-kapal yang ada di bawah 12 mil, namun kapal itu kita cek tidak menggunakan alat tangkap. Tapi mereka hendak ke darat untuk belanja logistik yang sudah habis,” ujarnya.

Anggota Wantimpres Mayjen TNI (Purn) Gusti Kompyang Manila ?yang mendengar penghasilan nelayan itu terkejut. Dengan penghasilan yang minim nelayan Anambas masih bisa menyekolahkan anak dan membiayai keluarga. Bahkan dengan pengakuan beberapa nelayan yang berpenghasilan Rp1,5 juta dan Rp 2juta sebulan sangatlah minim.

“Kalau UMK di sini berapa Rp2,9 juta? Berarti masih dibawah UMK. Jadi bagaimana lagi kalau ibadah umroh tentunya sangat sulit dilakukan,” ujarnya.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com