SINDOBatam

Hattrick+

Jungkir Balik+

Pengunjung Ramai, Serasa Berkunjung ke Arab

Pengunjung Ramai, Serasa Berkunjung ke Arab
Menjajal Wisata Bekas Tambang Pasir. Foto Joko Sulistyo.

Menjajal Wisata Bekas Tambang Pasir

Cuaca panas menyengat lesap oleh angin yang berhembus pelan menghantarkan hawa sejuk, bersama debu-debu tipis. Hamparan gurun pasir berwarna putih menyergap sejauh mata memandang.

Lansekap dengan elevasi beragam, naik turun bak bukit dan lembah, lengkap dengan sahara dan kubangan air di cerukan yang berwarna biru, menyerupai oase. Tegakan pohon kurma dan palem artifisial berpadu dengan replika onta dan perahu.

Suasana jazirah Arab tersaji betul, meski sedikit janggal saat dipadu dengan sajian ragam perahu Melayu, berukuran persis lazimnya perahu kayu.

Sajian lansekap padang pasir putih itu adalah bagian dari bekas tambang pasir di Kampung Lancang, Desa Busung, Kecamatan Sri Kuala Lobam, Bintan. Sebuah lokasi wisata yang boleh dikatakan kebetulan terbentuk setelah pertambangan pasir ditutup.

Libur lebaran berlangsung beberapa hari, silaturahmi mungkin usai dalam satu dua hari bagi sebagian orang. Sisa liburan banyak dimanfaatkan untuk sekedar berwisata bersama keluarga.

Seperti Pantai Trikora, Lagoi, Tanjungberakit dan destinasi alam lainnya, gurun pasir Kuala Lobam juga kebagian berkah libur lebaran.

Terletak sepuluhan kilometer dari pelabuhan Tanjunguban, pengunjung yang menyeberang menggunakan jasa kapal Roll on Roll off (RoRo) dari Telagapunggur, Batam dapat menjangkau lokasi ini dalam 20 menit.

Dari pintu keluar pelabuhan Tanjunguban, pengunjung hanya perlu mengikuti jalan penghubung satu-satunya yang menuju ke arah Tanjungpinang.

Empat hari lepas Shalat Id berjamaah, ratusan orang datang berombongan, menikmati sensasi padang pasir di Kuala Lobam. Mereka yang datang menggunakan mobil dan motor berombongan itu kemudian berpencar mengeksplorasi berbagai bentuk dan ceruk gurun. Tongkat-tongkat swafoto mengacung ke udara, bersaing dengan berbagai jenis kamera saku dan lensa reflek tunggal.

Gelak tawa pengunjung yang bergerombol di sekitar bukit kecil, replika perahu, atau patung binatang pecah usai satu persatu pose diabadikan, akrab, khas suasana liburan.

Areal yang luasannya diperkirakan mencapai belasan hektar itu tidak terasa padat, kendati dikunjungi ribuan warga.

Berbagai wahana murah meriah diciptakan oleh warga sekitar yang mengelola lokasi itu. Misalnya di gurun pasir Telaga Biru, pengunjung dapat menikmati wahana permainan air di kolam tiga warna. Cerukan yang menampung air hujan dan rawa-rawa itu menjadi titik yang menarik karena berada di tengah-tengah gurun pasir, layaknya oase di padang pasir.

Pengunjung yang ingin mengeksplorasi kolam dapat menyewa perahu, untuk sekedar berkeliling. Selain itu, berbagai pengelola menyediakan berbagai sarana seperti gazebo, payung, area parkir, toilet.

Selain jasa sewa, keberadaan bekas tambang pasir ini juga merupakan berkah bagi warga yang mengelola parkir. Tarif yang dipatok untuk sepeda motor Rp2.000, mobil Rp5.000, mini bus Rp10.000, dan bus Rp20.000.

Hamzah, salah seorang pengelola mengatakan, selama lebaran pengunjung kebanyakan datang dari luar Kepri. Bahkan, masih menurut Hamzah, ada beberapa wisatawan yang datang dari negeri jiran seperti Singapura atau Malaysia. “Sejak pagi hingga sore pengunjung tak ada berhenti,” ungkapnya.

Ditanya perkiraan jumlah total, Hamzah menyebut lebih dari seribuan pengunjung masuk sejak hari pertama lebaran.

Membludaknya pengunjung gurun pasir tidak lepas dari strategi pengelola yang tidak memungut biaya masuk. Hamzah mengatakan, pengunjunghanya perlu membayar ongkos parkir saja.

“Kalau mau foto di replika patung yang ada hanya bayar limaribu, itu sudah foto sepuasnya”, selorohnya sedikit berpromosi

Pengelola lokasi titik lain di lokasi yang sama Roi menyampaikan perkiraan pengunjung yang tidak jauh berbeda dengan Hamzah. Seribuan lebih pengunjung menjelajahi gurun dan empat kolam dengan warna air yang berbeda.

Gurun pasir Kuala Lobam mendapatkan perhatian masyarakat luas kendati masih dikelola secara sederhana. Popularitas bekas lahan tambang yang tidak direklamasi tersebut moncer akibat banyaknya warganet yang memposting foto di media sosial. Hal itu menempatkan lokasi ini menjadi buah bibir dan menular di antara warganet.

Syahrial, seorang pengunjung asal Batam misalnya, mengaku mendengar lokasi wisata dadakan ini sudah cukup lama. Namun karena tinggal di pulau yang berbeda, ia baru berkesempatan mengunjungi saat libur lebaran ini.

Selain gurun pasir, Syahrial memang memilih Bintan untuk berlibur lebaran bersama teman-temannya karena cukup terjangkau, baik jarak maupun anggaran.

Khusus gurun pasir, Styahrial mengaku takjub dengan objek wisata gurun pasir tersebut karena persis dengan gurun pasir sebenarnya. “Sudah macam piknik ke Arab aja Bang,” pungkasnya.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com