SINDOBatam

Hattrick+

Jungkir Balik+

PERNIKAHAN SEDARAH: Sudah Punya Dua Anak, Ketahuan setelah Belasan Tahun

  • Reporter:
  • Senin, 12 Februari 2018 | 16:39
  • Dibaca : 2858 kali
PERNIKAHAN SEDARAH: Sudah Punya Dua Anak, Ketahuan setelah Belasan Tahun
Warga Bukit Cintin, Meral, Karimun bersama aparat kepolisian menginterogasi Arman, Jumat Sore (9/2/2018). /ABDUL GANI

WARGA Bukit Cintin Kecamatan Meral, Kabupaten Karimun heboh. Pasalnya, sepasang suami istri yang telah dikarunai dua orang anak ternyata saudara kandung. Mereka menikah secara siri ketika masih tinggal di kampung halaman di Jawa Barat belasan tahun silam.

ABDUL GANI, KARIMUN

Susunan papan dipasang bercelah, menutup rumah berdinding triplek. Tidak terlihat aktivitas di rumah itu pada Jumat (9/2/2018) pekan lalu, kecuali burung perkutut peliharaan berkicau yang memecah kesunyian.

Tak jauh, hanya sepelemparan batu dari sangkar burung yang digantung, ada meja yang dilapisi karpet plastik, serasi dengan kursi plastik di sampingnya. Sama-sama berwarna hijau. Kesunyian itu tiba-tiba pecah, sejumlah warga dan petugas berseragam menuju rumah itu. Beragam ekspresi muka, ada yang marah juga.

Tok tok toookkkk, pintu rumah itu diketuk, meminta pemilik rumah keluar. Tak berselang lama, pria mengenakan batik corak biru muncul. Dengan ekspresi kaget, ia tetap mempersilakan tamunya duduk di kursi yang ada di teras rumahnya.

Ia sendirian, berhadapan sejumlah warga dan polisi. Sejumlah pertanyaan dilontarkan kepada pria yang dikenal memiliki nama Ar itu. Pertanyaan demi pertanyaan ia jawab. Namun ada momen saat ia menjawab pertanyaan yang membuatnya pucat pasi. Dan jawaban Ar itu juga membuat warga dan petugas kaget. Ar mengakui ia menikahi istrinya bernama Si yang tak lain adalah adik kandungnya sendiri.

Mengetahui itu, warga sekitar pun tampak mulai ramai dan tanpa dikomandoi akhirnya kediaman Ar dan Si yang menjalani pernikahan haram selama belasan tahun itu dipadati warga.

Di hadapan warga dan petugas, Ar menuturkan, awal mula tiba di Karimun pada 2003, ia dan istri sedarahnya masih tinggal di sekitar bukit di Bukit Cincin selama 10 tahun lebih. Lalu dalam dua tahun terakhir, ia memutuskan pindah, tak jauh dari lokasi rumah lamanya namun lebih ramai penduduk.

Warga sekitar tak menaruh curiga kalau pasangan suami istri itu ternyata masih ada hubungan sedarah yang merupakan kakak adik kandung. Salah seorang warga, Dohar Harahap yang juga tetangga Ar mengaku tak menyangka jika pasangan suami istri itu sedarah. Selama ini pun tidak pernah menaruh curiga.

Menurut Dohar, warga sekitar baru mendapatkan informasi dari salah seorang kerabat Ar yang kebetulan bertandang ke kediaman pasangan sedarah itu. Masyarakat pun makin geram ketika mendapatkan informasi itu dari mulut Arman sendiri sehingga sepakat untuk mengusirnya dari Karimun.

“Arman sendiri mengakui kalau hubungannya dengan sang istri adalah adik-kakak kandung yang telah menikah siri. Hubungan terlarang itu sudah dikaruniai dua orang anak yang sudah beranjak remaja,” katanya.

Masyarakat lanjut Dohar, menolak keberadaan Ar yang menikahi adik kandungnya sendiri untuk tinggal di Kabupaten Karimun. Dengan alasan dikhawatirkan akan muncul musibah yang menimpa bumi berazam khususnya masyarakat sekitar yang bertetanggaan dengan pasangan suami istri sedarah itu.

Kapolsek Meral AKP Badawi mengatakan, sebelum Ar diusir dari Karimun, pasangan suami istri sedarah ini diamankan di Masjid Agung Kabupaten Karimun, guna menghindari amukan warga sambil mencari solusi.

“Akhirnya ditegaskan agar dia (Ar) harus meninggalkan Karimun untuk selamanya,” kata Badawi.

Arman, lanjut Badawi, ditegaskan oleh warga agar meninggalkan Karimun pada hari itu juga, sehingga Jumat malam ia dikawal masyarakat setempat menuju Pelabuhan Roro di Parit Rampak Kecamatan Meral yang kebetulan ada jadwal kapal berangkat malam hari.

Sedangkan terhadap adik kandung Arman yang sudah dinikahinya secara siri belasan tahun silam, masih diperbolehkan untuk tinggal di Kabupaten Karimun dan akan tetap diawasi.

“Adik kandung yang menjadi istrinya itu tetap di Karimun, kita masih membicarakan bersama semua pihak dalam menangani kasus ini,” jelas Badawi.

Pernikahan Terlarang
Akademisi Karimun, Maemunah mengaku terkejut mengetahui informasi pernikahan sedarah di Kabupaten Karimun. Ia mengaku hal itu tidak bisa dibiarkan begitu saja. Namun, ia menyayangkan warga yang mengusir Arman. Jika diusir, sang istri yang merupakan adik kandung Ar pun pasti akan menyusulnya karena bagaimanapun pasti akan ketergantungan dari segi nafkah keluarga.

“Harusnya diselesaikan dulu, keduanya diberikan pemahaman. Kadang-kadang kesalahan kita ketika ada problem besar langsung diusir gitu. Yang harus kita pikirkan adalah, ketika sang suami atau abangnya diusir dia bertumpu dengan siapa,” katanya.

Maemunah pun menilai kesalahan yang terjadi adalah dari pasangan laki-laki dan perempuan tersebut masih saudara kandung. Dari segi agama dilarang dan ini juga akan berdampak juga saat mengurus identitas sebagai warga.

“Harusnya jangan langsung diusir dulu. Selesaikan dulu, kalau mau disuruh keluar atau diusir ya usir semuanya. Tapi itu tadi apakah menyelesaikan masalah. Yang pasti secara hukum agama mana boleh, Itu haram,” katanya.

Kasus tersebut terjadi karena kurangnya pemahaman adik dan kakak yang menikah itu terhadap agama. Termasuk lemahnya pemahaman agama pada keluarga mereka. Kedua, kontrol orang tua pasti tidak berjalan.

Maemunah menilai bahwa kasus tersebut merupakan kategori kasih sayang yang menyimpang, karena kalau diberikan penguatan agama oleh orang tua maka hal itu tidak akan terjadi. Pemerintah juga diminta untuk tidak mendiamkan kasus tersebut agar tidak terulang lagi kasus serupa.

Sementara, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Karimun, Muhammad Firmansyah mengatakan, jika dilihat dari segi medis soal kasus pernikahan sedarah nanti yang akan menerima dampaknya adalah dari anak yang dihasilkan dari pernikahan itu.

“Prinsipnya, yang ditakutkan nanti keturunannya, bisa berpengaruh ke mental sang anak yang dilahirkan. Walaupun fisiknya terlihat bagus atau tidak itu tak masalah. Contoh penyakitnya itu namanya down sindrome atau keterbelakangan mental. Jadi ini lah resikonya kalau menikah dengan saudara sekandung. Intinya ya dampaknya kepada anaknya, kalau secara agama kan memang tidak boleh juga, nah kita melihat ini dari sisi medis,” jelas Firman.

Pria yang menjabat sebagai salah Dirut Rumah Sakit Bhakti Timah (RSBT) Karimun ini juga menilai, selain mental, nantinya akan berpengaruh kepada psikologis sang anak, yang berhubungan dengan cacat mental.

Firman mengaku gejala tau sindrome yang dialami anak dari hasil pernikahan saudara kandung sulit untuk disembuhkan, atau dikategorikan tidak dapat sembuh.

“Kalau di IDI kita belum pernah menemukan kasus ini, belum pernah dapat laporan ke kita. Ini kasus pertama,” katanya.***

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com