SINDOBatam

Hattrick+

Jungkir Balik+

Saya Tak Punya Kepentingan Apa pun, Kecuali Majukan Batam

  • Reporter:
  • Rabu, 21 Juni 2017 | 14:29
  • Dibaca : 458 kali
Saya Tak Punya Kepentingan Apa pun, Kecuali Majukan Batam
Kepala BP Batam Hatanto Reksodipoetro bersilaturahmi dengan pemimpin redaksi sejumlah media di Batam. Fot Ahmad Romadi

Dari Silaturahmi Kepala BP Batam dengan Para Pemimpin Redaksi

Untuk pertama kalinya Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam Hatanto Reksodipoetro bersilaturahmi dengan para pemimpin redaksi sejumlah media di Batam. Hatanto menyampaikan sejumlah persoalan di Batam, termasuk tekadnya untuk lebih komunikatif dan terbuka. Karena kepentingannya, katanya, cuma satu, memajukan Batam.

Sering sulit tidur, dirasakan Hatanto saat membaca berita-berita di media. Isinya lebih banyak soal mengkritisi kinerja pimpinan BP Batam yang dianggap sejumlah pihak telah membuat Batam makin terpuruk. Tidak sedikit kebijakan yang dikeluarkan pimpinan BP Batam justru memicu polemik di masyarakat.

“Kadang saya tidak bisa tidur saat baca berita-berita di media. Tapi itu semua membuat kami semakin termotivasi untuk bekerja dan menjalankan apa yang telah kami canangkan untuk Batam,” kata Hatanto yang sudah setahun dua bulan menjabat sebagai Kepala BP Batam, didampingi wakil dan sejumlah deputinya, tadi malam.

Berbicara usai buka puasa di ruang tengah Wisma Batam di Sekupang, Hatanto tampak rileks. Tak terlihat ketegangan di wajahnya. Hatanto sesekali ikut tersenyum, melepas tawa saat mendengar cerita-cerita soal Batam dulunya, sebelum dia mengepalai BP Batam.

Dia menjelaskan, tujuan mengundang para pemimpin redaksi sejumlah media dalam forum itu adalah untuk menjalin silaturahmi dan bertukar pikiran. Harapannya, tentu ke depan terjalin kerja sama yang lebih baik antara BP Batam dengan media-media di Batam.

Obrolan pun bergulir tentang beragam permasalahan yang tengah dihadapi Batam. Menurut Hatanto, sejak awal memimpin BP Batam dan mendapatkan tugas dari Presiden Jokowi untuk mengembalikan Batam sebagai kota industri, diakuinya sebagai tugas yang sangat berat.

Saat itu, dia dihadapkan mulai dari persolan internal di BP Batam, permasalahan lahan, perizinan, dan pelabuhan yang harus segera diselesaikan untuk membuat Batam mampu bersaing dengan negara tetangga. Permasalahan-permasalahan itu memang sumber pemberitaan menarik bagi media.

“Sampai saat ini memang masih banyak pemberitaan, seperti saya yang katanya disuruh pulang,” ujarnya.

Hatanto menjelaskan, kritikan keras dari media sering kali membuatnya sedikit tertekan. Belum lagi banyaknya desakan dari masyarakat. Tapi hal itu dinilai bukan menjadi kendala, melainkan memacu semangatnya untuk terus bekerja dan membuktikan bahwa apa yang dilakukannya bersama para deputi memang untuk Batam.

“Saya tak punya kepentingan apa pun, kecuali untuk kemajuan Batam,” katanya.

Permasalahan yang selama ini masih sering dikeluhkan masyarakat diakuinya di antaranya terkait persoalan Izin Peralihan Hak (IPH) dan ini memang diakui menjadi satu dari delapan aspek perizinan lahan yang paling sulit diselesaikan. Hal ini disebabkan banyaknya dokumen yang tidak tertata di bagian arsip, sebelum dirinya masuk.

“Dokumen memang kondisinya sangat kacau, kami tidak tahu mana faktur, mana PL karena semua jadi satu. Kemudian perlahan kami tata kembali, meski belum 100 persen tapi sudah mulai baik,” katanya.

BP Batam saat ini tengah berusaha menyelesaikan persoalan itu mulai dari menuju digital dan menggunakan sistem online. Meskipun belum berjalan maksimal, tapi ia yakin permasalahan ini segera terselesaikan. Sehingga bisa memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat Batam.

“Namanya hak, tentu harus berdasarkan dengan dokumen yang ada dan kami harus benar-benar teliti. Dan ini bukan pekerjaan yang mudah,” ujarnya.

Kemudian juga persoalan lahan tidur, ia saat ini juga tengah menggesa agar lahan-lahan yang belum dimanfaatkan bisa segera dilakukan pembangunan, guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi Batam. Sebab itu, Hatanto juga menegaskan pihaknya tidak akan pernah segan untuk mencabut lahan tersebut jika memang tidak dilakukan pembangunan sesuai perjanjian.

Pasalnya, sebelum BP Batam mengalokasikan lahan kepada pengusaha atau pihak lain, minimal dalam jangka waktu tertentu harus sudah dilakukan pembangunan fisik. Jika hal itu tidak dilakukan, maka BP Batam berhak untuk mencabut dan mengalokasikan lahan itu kepada orang lain. Dengan demikian tentu diharapkan bisa mempercepat pembangunan Batam.

“Saat ini ada beberapa yang berkomitmen akan membangun. Tapi banyak juga yang tidak takut dan masih saja membiarkan lahan itu. Hal ini juga menjadi tugas berat kami, karena kami bukan penegak hukum,” terangnya.

Persoalan pelabuhan juga demikian. Bahkan sampai saat ini masih belum selesai, karena pihaknya melihat banyak potensi pendapatan yang bocor. Maka itu BP Batam juga tengah berupaya bagaimana bisa meningkatkan pendapatan pelabuhan, salah satunya tentu dengan mengembangkan pelabuhan Batuampar.

Pasalnya, pelabuhan merupakan bagian yang sangat penting untuk menunjang industri di Batam. Kondisi saat ini dinilai sangat jauh tertinggal dengan Singapura. Karena itu tidak heran jika kalah bersaing dengan negara-negara tetangga. Dengan rencana pengembangan ini, diharapkan nantinya bisa meningkatkan kapasitas pelabuhan.

“Saat ini sudah kami konsepkan rencana pengembangan. Sudah kami mulai dengan pengembangan dermaga utara,” jelasnya.

Hatanto tidak menampik selama ini memang banyak mendapatkan masukan dari pihak-pihak luar terkait sikap yang dinilai menutup diri kepada masyarakat. Namun ia menjelaskan, hal itu sebenarnya dilakukan agar tidak ada pihak-pihak yang memanfaatkan kedekatan untuk mendapatkan keuntungan.

“Saat saya baru datang, semua saya datangi, Wali Kota, DPRD Batam, dan gubernur. Kemudian juga tidak sedikit yang datang dan saya terima, tapi ujung-ujungnya setelah itu berkaitan soal lahan,” katanya sembari tersenyum.

Hatanto juga bicara soal visi BP Batam di masa depan. Banyak rencana pembangunan untuk kemajuan Batam. Seperti pengembangan Bandara Hang Nadim dan kawasan wisata bergaya futuristik. “Tapi ini masih off the record. Untuk pertama kalinya saya sampaikan kepada bapak-bapak (pimpinan media),” ujarnya.

Pada kesempatan itu, General Manager KORAN SINDO BATAM Deden Rosanda juga memberikan masukan. Menurutnya, komunikasi memang menjadi hal yang sepertinya perlu diubah oleh pimpinan BP Batam. Karena ia melihat selama ini tertutup dengan masyarakat, sehingga banyak kesan yang seolah arogan.

Menurut dia, pendekatan kepada masyarakat perlu dilakukan. Karena bagaimanapun para pimpinan BP Batam merupakan orang pusat yang ditugaskan di Batam. Sebab itu komunikasi keluar kepada masyarakat harus diubah, sehingga kepercayaan masyarakat bisa meningkat.

“Kalau komunikasi ke dalam saya yakin sudah sangat baik. Tapi komunikasi keluar ini yang saya kira perlu diperbaiki,” ujarnya.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com