SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Bisnis Mobil Impor Stagnan

  • Reporter:
  • Rabu, 6 Maret 2019 | 10:41
  • Dibaca : 238 kali
Bisnis Mobil Impor Stagnan
Ilustrasi Foto Teguh Prihatna.

BATAM KOTA – Bisnis mobil impor di Batam terus mengalami penurunan setiap tahunnya. Pernah berjaya di era tahun 2000-an, kini penjualan mobil impor turun drastis. Pada tahun 2012 silam pengusaha bisa mengimpor sampai 1.429 unit mobil, namun tahun 2018 tercatat hanya ada 335 unit saja.

Kasubdit Humas Badan Pengusahaan (BP) Batam, Muhammad Taofan mengatakan, aktivitas impor mobil Completely Built Up (CBU) sepanjang tahun 2018 masih stagnan, tidak ada peningkatan jika dibandingkan dengan tahun 2017. Selain sepinya peminat masyarakat, faktor ekonomi yang belum pulih menjadi salah satu faktor menurunnya penjualan mobil luar negeri tersebut.

Dampaknya, banyak showroom mobil impor yang gulung tikar karena produk yang dijualnya kurang laku di pasaran. Berdasarkan data dari BP Batam, jumlah impor mobil CBU ke Batam tahun 2012 ada sebanyak 1.429 unit, 2013 turun menjadi 1.265 unit, 2014 hanya 1.077 unit, 2015 turun menjadi 964 unit. Sementara 2016 kembali turun menjadi 596 unit dan 330 unit di 2017.

“Di tahun 2018 ada peningkatan tapi sedikit. Data di Direktorat Lalu Lintas (Ditlalin) hanya 335 unit mobil CBU yang masuk ke Batam,” ujarnya, Selasa (5/3).

Sejak tahun 2012 ada sekitar 20 importir yang ikut bermain dalam pasar mobil CBU. Di antaranya adalah Ganda Nusantara Persada, TC Subaru, Toyota Astra Motor, Megah Jaya Perkasa, Centri Japri Auto, Indo Auto Trade, Eurasia Auto Dinamika, Arnada Pratama Indonesia, dan Jaya Auto Central,

Kemudian, Garuda Mataram Motor, Ford Motor Indonesia, Duwin Motor Indonesia T Eight Gallery, Oriental Komobindo Bahtera, KIA Indonesia Motor, Wahana Varia Motorindo, Surya Sejahtera Otomotif, Inti Jaya Cemerlang dan Eurokars Motor Indonesia dan Legenda Motor Indonesia.

“Tapi perusahaan-perusahaan ini tidak rutin. Hanya Ganda Nusantara Persada, Toyota Astra Motor dan Eurasia Auto Dinamika yang masih mengajukan kuota mobil impor. Tapi ya itu jumlahnya terus menurun,” katanya.

Taofan mengaku pihaknya tidak mengetahui pasti penyebab turunya jumlah mobil impor di Batam. Ia menduga faktor ekonomi yang belum stabil menjadi salah satu pemicunya. Kemudian ditambah lagi industri mobil pabrikan dalam negeri saat ini juga terus berkembang dengan baik.

“Selain ekonomi, ya mungkin memang peminatnya tidak banyak lagi. Jadi terus turun pengajuan impor mobil CBU,” kata Taofan.

Sebelumnya, Direktur Lalu Lintas (Ditlalin) Barang BP Batam Tri Novianta Putra mengatakan, menurunnya minat masyarakat untuk membeli mobil CBU sebenarnya sudah terjadi sejak beberapa tahun terakhir. Pihaknya mencatat memang tren mobil impor ke Batam terus berkurang setiap tahunnya.

“Trennya memang terus turun, apalagi ekonomi Batam kan lesu tahun 2017. Sehinga jarang yang minat beli mobil impor,” kata Tri.

Dijelaskannya, prosedur impor mobil CBU ditentukan Kementerian Perindustrian. Importir lanjutnya mengajukan Tanda Pendaftaran Tipe (TPT) dan varian kendaraan bermotor untuk keperluan impor ke pemerintah pusat tiap bulan. Apabila mobil CBU merupakan tipe terbaru, importir harus mengajukan TPT Pendaftaran Uji Tipe ke Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Diakuinya bahwa mobil CBU berbagai merek yang masuk ke Batam harganya lebih murah dibanding di daerah lain di Indonesia. Namun kendaraan tersebut tidak bisa dibawa keluar sebelum membayar Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sesuai ketentuan. Berkurangnya impor mobil CBU dinilai memang lebih baik, karena akan memberikan kesempatan bagi mobil-mobil lokal untuk memproduksi lebih baik lagi.

“Tapi untuk di kami hanya mengawasi mobil impor luar negeri. Kalau untuk mobil dalam negeri tidak di kami,” jelasnya. ahmad rohmadi

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com