SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Disdik Tunda Bangun Sekolah

  • Reporter:
  • Rabu, 22 April 2020 | 09:09
  • Dibaca : 383 kali
Disdik Tunda Bangun Sekolah
Aktivitas belajar mengajar di SMPN 3 Batam, Sekupang, beberapa waktu lalu. Disdik Batam menunda pembangunan sekolah, karena kemampuan APBD yang ikut terdampak dalam penanganan Covid-19. dok sindo batam

SEKUPANG – Dinas Pendidikan (Disdik) Batam berencana menunda pengerjaan proyek fisik yang dibiayai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja (APBD) tahun 2020. Alasannya, memperhitungkan kemampuan APBD yang ikut terdampak dalam penanganan Covid-19.

”Kami masih menghitung dan memetakan proyek mana yang bisa tercover dan terpaksa ditunda pengerjaannya tahun ini,” kata Kepala Disdik Batam, Hendri Arulan, Selasa (21/4).

Ia menjelaskan, pembangunan proyek fisik bersumber dari pendapatan asli daerah Kota Batam. Namun, karena adanya pandemi Covid-19, pemerintah mengutamakan penyelesaian virus corona lebih diprioritaskan.

”Sementara ini kami tahan dulu, hingga kondisi membaik. Karena memang keadaan tengah sulit. Jadi proyek fisik belum bisa dimulai hingga saat ini,” katanya.

Hendri menyebutkan, proyek fisik yang membutuhkan biaya cukup besar yaitu pembangunan tiga sekolah menengah pertama (SMP) negeri yang didirikan pasca penerimaan peserta didik baru (PPDB) Juni 2019 lalu.

Tiga unit sekolah baru (USB) tersebut yaitu SMPN 60, 61 dan 62 Batam. Selain USB, pihaknya juga merencanakan penambahan ruang kelas baru (RKB) di sejumlah sekolah. Penambahan ini guna menampung siswa yang saat ini melebihi kapasitas karena tidak adanya ruangan.

”Ada juga revitalisasi dan usulan lainnya yang sudah masuk rencana dikerjakan tahun ini. Kami harus melihat keadaan saat ini. Karena tidak mungkin dipaksakan dibangun sedangkan uangnya tidak ada,” katanya.

Untuk itu, siswa dan guru diharapkan bersabar, jika belum bisa memiliki gedung sendiri tahun ini. Lanjutnya, jika keadaan membaik dan anggaran cukup, Disdik pasti memprioritaskan pembangunan sekolah untuk disegerakan.

“Mudah-mudahan kondisi cepat pulih, sehingga pembangunan Kota Batam tetap bisa berlanjut termasuk USB,” katanya.

Saat ini, siswa yang tidak memiliki gedung sendiri masih menumpang belajar di sekolah terdekat. Karena pandemi, siswa diliburkan, sehingga belajar di rumah. Kondisi ini jauh lebih nyaman dari pada mereka harus belajar dua shif, karena harus berbagi ruangan dengan sekolah yang mereka tumpangi.

”Belajar dari rumah kan diperpanjang. Jadi mereka tidak ke sekolah sementara ini,” katanya.

Seperti diketahui, kKeterbatasan ruang kelas menjadi kendala sejumlah sekolah di Batam, baik tingkat SD, SMP hingga SMA. SMAN 23 Batam salah satunya. Siswa terpaksa disebar ke sejumlah sekolah. Hal ini terpaksa dilakukan agar proses belajar mengajar bisa tetap berjalan.

SMAN 23 Batam yang berada di Perumahan Taman Lestari, Batuaji ini baru memiliki tiga ruangan. Satu ruangan diperuntukan bagi majelis guru. Sedangkan dua ruangan lainnya, ruang kelas bagi siswa kelas XI. “Siswa kelas XI IPA dan IPS yang belajar di gedung sendiri. Dua lokal dibagi pagi dan siang. Pagi kelas IPS, siang kelas IPA,” kata Kepala SMAN 23, Sarimin Adang.

Sedangkan siswa kelas X disebar di dua sekolah, yakni SMAN 5 dan SDN 005 Batuaji. Pembagian siswa untuk kelas X sebanyak delapan kelas. Empat kelas jurusan IPA dan empat kelas jurusan IPS. Satu kelas diisi antara 36 dan 37 siswa dari total siswa kelas X sebanyak 293 siswa. “Jumlah ideal satu kelas masih bisa dikondisikan, namun belajar mengajar untuk kelas X sementara masih menumpang di SMAN 5 dan SDN 005 Batuaji,” ujarnya.

Kondisi ini dikarenakan gedung sekolah yang belum bisa mengakomodir seluruh siswa. Siswa kelas X yang menumpang di SMAN 5 adalah jurusan IPS, terbagi dalam dua shift belajar, pagi dua kelas dan siang dua kelas. Sedangkan jurusan kelas X IPA menumpang di SDN 005 Batuaji sebanyak empat rombongan belajar (rombel). “Bisa dibilang guru cukup kewalahan untuk mengajar. Mengingat jarak dan waktu, guru sekolah membagi jadwal di tiga titik,” katanya.

Dengan jumlah tenaga pengajar 20 orang tentu menjadi tantangan tersendiri membagi jadwal di tiga titik. Tak hanya permasalahan gedung sekolah dan guru, saat ini buku pelajaran masih ditampung di perpustakaan SMAN 5. “Maka guru proaktif dalam melayani tiga titik sembari membawa buku pelajaran, sekaligus sebagian guru diperbantukan oleh SMAN 5,” kata Sarimin.

Ia berharap ke depannya ruang kelas bisa mengumpul di satu lokasi di SMAN 23, agar siswa mudah terpantau dan kegiatan belajar mengajar berjalan lancar. “Perlu ditambah ruang kelas untuk mengakomodir jam belajar. Saat ini masih proses pengajuan ke Disdik Kepri,” ujarnya.
iwan sahputra

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com