SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Era Gas Bumi jadi Tumpuan Energi

  • Reporter:
  • Sabtu, 30 November 2019 | 18:45
  • Dibaca : 5941 kali
Era Gas Bumi jadi Tumpuan Energi
Pemilik warung makan Soto Medan di Batam Center melayani pelanggan, belum lama ini. Warung ini menggunakan gas bumi dari PGN sebagai bahan bakar memasak. /DOK SINDO BATAM

GAS bumi dari PT Perusahaan Gas Negara (PGN), memiliki peran penting bagi perekonomian di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Tidak hanya digunakan untuk menopang kebutuhan energi bagi sektor industri skala besar, gas bumi juga punya andil besar dalam menggerakkan roda ekonomi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) berbasis kerakyatan di kota ini.

FADHIL, Batam

Ita menuliskan angka demi angka yang tersusun berderet ke bawah, pada sebuah buku tebal. Sesekali, keningnya berkerut. Di samping buku, terdapat mesin kalkulator berukuran kecil. Tombolnya kerap ia pencet. Sejurus kemudian, ia geleng-geleng kepala.

“Aduh, apa-apa sekarang naik harganya, mahal semua,” keluhnya.

Ita, adalah pemilik rumah makan Soto Medan Budhe Sri yang berada di Kompleks Nusantara Golden, Jalan Raja Haji Fisabilillah, Batam Centre, Kota Batam. Ia adalah generasi kedua yang meneruskan bisnis kuliner soto yang cukup terkenal itu, yang tak lain merupakan peninggalan sang ibu.

Kala itu, Ita baru pulang berbelanja dari pasar dan menghitung harga barang-barang belanjaannya. Ia terkejut dengan naiknya harga berbagai bahan makanan. Pasalnya, kenaikan harga itu merata untuk beberapa komoditas bahan pangan utama. Seperti, bawang merah, cabai merah besar, ayam potong, serta beberapa bahan yang ia butuhkan untuk memasak soto Medan.

“Bahan-bahan mahal, tapi kalau sotonya naik nanti pelanggan komplain,” keluhnya.

Namun, Ita masih bisa sedikit bernapas lega. Pasalnya, meski bahan-bahan pangan untuk usahanya mahal, tapi ia terbantu dengan biaya produksi pembuatan soto yang bisa dihemat. Terutama, dari sisi konsumsi energi atau bahan bakar untuk memasak.

Itu terjadi setelah usahanya beralih menggunakan gas bumi PGN, dari sebelumnya menggunakan Liquified Petroleum Gas (LPG) kemasan tabung. Ia menyebut, penggunaan gas bumi jauh lebih efisien dibanding saat memakai LPG.

“Setelah pakai dan dihitung-hitung, kita bisa menghemat antara 30-50 persen untuk konsumsi bahan bakar, lumayan itu,” ujar Ita.

Ia bertutur, tiap bulan hanya mengeluarkan sekitar Rp1,5 juta untuk membayar tagihan gas dari PGN. Kondisi itu berbeda jauh dibanding saat menggunakan LPG. Ia mengingat, sebulan bisa membayar lebih dari Rp2 juta. “Selisih untungnya ya ada, lumayan bisa disisihkan untuk uang jajan anak,” katanya.

Satu hal lagi yang diungkapkan Ita, sejak menggunakan gas bumi, dirinya merasa lebih aman dan nyaman. Pasalnya, kata dia, selain ada petugas yang rutin mengecek kualitas pipa, ia juga telah mendapatkan edukasi jika gas bumi dari PGN memiliki tekanan rendah namun stabil, sehingga lebih aman digunakan.

Bahkan, Ita mengaku pernah mengalami sendiri adanya kebocoran pipa gas PGN di tempat usahanya. Namun, saat itu, situasi tetap aman dan tak terjadi hal yang tidak diinginkan. Seperti, sambaran api atau bahkan ledakan.

“Waktu itu tahu pipa bocor karena di pipa tersebut kena tetesan air, sehingga kelihatan ada gelembung-gelembung. Tapi, ya enggak apa-apa dan tidak berdampak buruk. Setelah petugas datang, pipa saya minta dialihkan lewat atas saja, di bagian bawah plafon,” jelasnya.

Hal lain yang juga tak kalah penting, sambung wanita berhijab tersebut, karena bahan bakar yang merupakan kebutuhan utama untuk menjalankan usahanya itu tiap hari, harus selalu tersedia. Maka itu, ia tak khawatir lagi saat terjadi kelangkaan gas LPG atau kehabisan gas saat malam atau subuh hari ketika memasak. Itu karena, kapan pun butuh, tinggal menyalakan knop kompor lalu api menyala di tungku, tanpa perlu lagi sibuk mencari gas untuk menggerakkan roda bisnisnya.

“Bagi kami yang harus memasak tiap waktu, gas lancar itu penting. Kami bersyukur ada gas bumi ini,” ujarnya.

Selain Ita, pemilik kedai Teh Tarek Raja di Batam Centre, Raja Rita, mengaku sudah sekitar 4 tahun terakhir menggunakan gas bumi untuk memasak di tempat usahanya tersebut. Menurutnya, selisih biaya operasional saat menggunakan gas alam dibanding ketika masih memakai LPG, memang cukup jauh.

“Sekitar 50 persen, mungkin lebih. Saya dulu tiap bulan habis Rp3,5 juta sampai Rp3,8 juta buat bayar LPG, tapi sekarang rata-rata saya cuma habis Rp1,2 juta sampai Rp1,5 juta,” jelas Rita.

Dengan selisih tersebut, Rita mengatakan bisa menekan biaya operasional usaha. Sehingga, bisa dialihkan untuk menutup kenaikan harga komoditas bahan masakan yang juga terus naik. “Karena, harga jual makanan kami enggak naik tapi bahan pangan naik, jadi ya, harus pintar-pintar mengelola biaya operasional. Pakai gas bumi ini terasa manfaatnya,” puji Rita.

Selain efisiensi, Rita juga mengaku senang menggunakan gas alam dari PGN lantaran tersedia setiap saat. “Jadi enggak repot-repot lagi cari gas, gampang dan murah,” katanya.

Saat ini, Raja Rita mengelola dua kedai Teh Tarek Raja yakni di Batam Centre, Kecamatan Batam Kota dan di kawasan Jodoh, Kecamatan Batuampar. Sayangnya, kedai yang di kawasan Jodoh belum bisa menikmati gas alam dari PGN. Pasalnya, sambungan pipa gas bumi untuk wilayah Batuampar baru akan direalisasikan tahun depan.

“Kalau di sana sudah ada pipanya, saya pun mau pasang karena lebih hemat. Kalau bisa efisien terus kan semoga bisa menambah cabang baru lagi, mohon doanya,” harapnya.

Ita dan Raja Rita hanya dua dari sekian banyak pelaku UMKM yang menggunakan gas bumi dari PGN. Di Batam, sudah ada beberapa pelaku usaha lain yang beralih dari Bahan Bakar Minyak (BBM) maupun dari LPG kemasan tabung, ke gas bumi PGN. Mulai dari rumah makan, pabrik tahu dan tempe, usaha binatu (laundry), dan masih banyak lainnya. Totalnya, baru 29 UMKM yang bisa merasakan manfaat energi baik gas bumi tersebut karena tempat usahanya sudah tersambung infrastruktur pipa PGN.

Selain UMKM, energi dari gas bumi juga dimanfaatkan oleh sektor usaha skala besar seperti industri di Kota Batam. Bahkan, puluhan kawasan industri yang tersebar di berbagai penjuru kota juga telah berlangganan gas bumi untuk menopang kebutuhan energi bagi operasional usaha sehari-hari.

Layanan Meningkat, Infrastruktur Dipercepat

Untuk saat ini, belum semua masyarakat Batam bisa merasakan gas alam dari PGN karena infrastruktur pipa gas yang terbatas. Namun, hal itu termyata telah disiasati oleh perusahaan pelat merah tersebut guna meningkatkan kualitas layanan serta menjangkau pelanggan yang lebih luas tapi berada di luar jaringan pipa gas PGN.

Sales Area Head PGN Batam, Wendi Purwanto mengatakan, bagi yang ingin berlangganan gas tapi di wilayahnya belum ada jaringan pipa, pihaknya juga tetap bisa melayani.

“PGN bisa melayani dengan produk gaslink, yaitu gas terkompresi (Compressed Natural Gas/CNG) yang menggunakan teknologi Gas Transportation Module (GTM) atau Gaslink Truck, disediakan menggunakan cradle yang diinstal dengan kapasitas tertentu. Yang mana, pola pemakaian dan pembayarannya sama dengan gas pipa, yakni menggunakan meteran dan sistem pascabayar,” ujarnya.

Adapun, wilayah yang belum ada jaringan pipa di Batam yakni; Kecamatan Bengkong, Sekupang dan Nongsa. Selebihnya, kata dia, sudah ada jaringan dan pelanggan pun terus tumbuh.

Untuk meningkatkan jangkauan gas bumi lebih merata, PGN Batam juga berencana membangun infrastruktur jalur pipa gas di Kecamatan Batuampar, tersambung ke wilayah Seipanas di Kecamatan Batam Kota, hingga ke kawasan Pelita di Kecamatan Lubukbaja, Kota Batam. Pembangunan jalur pipa gas di tiga kawasan itu akan dilakukan tahun depan. Tujuannya, memperluas dan mengakomodir kebutuhan calon pelanggan industri dan komersial di jalur tersebut, yang jumlahnya juga terus meningkat.

“Panjang pipanya sekitar 10 kilometer (km). Sedangkan pipa yang sudah terbangun di Batam sampai saat ini sepanjang 163 km, terdiri dari pipa baja dan polyethlyne,” kata Wendi.

Dengan terus memperluas jangkauan ini, kata dia, merupakan komitmen PGN agar pemanfaatan energi gas bumi dapat berkontribusi memacu semua sektor penggerak ekonomi. Pasalnya, tiga kawasan itu memang dikenal sebagai salah satu sentra penggerak ekonomi Kota Batam, utamanya dari sektor industri dan perdagangan.

Seperti diketahui, pertumbuhan ekonomi di Kota Batam tahun 2019 memang ditopang oleh kinerja industri pengolahan, konstruksi dan perdagangan.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam merilis, pertumbuhan ekonomi Batam menunjukkan tren positif karena bisa mencapai angka 4,72 persen. Angka itu hampir mencapai target pemerintah, yakni 5 persen. Padahal, sejak dua tahun terakhir, ekonomi Batam pernah terpuruk di angka 2,19 persen pada 2017, lalu berangsur naik pada 2018 di angka 4,5 persen. Kemudian di penghujung tahun ini, angkanya tumbuh menjadi 4,72 persen.

Karena itu, Wendi menyambung, pihaknya ingin manfaat gas bumi yang ramah lingkungan, terjaga pasokannya dan lebih hemat itu, bisa dinikmati sektor-sektor tersebut agar makin melejitkan pergerakan ekonomi kawasan.

Ia merinci, untuk pelanggan di sektor industri, saat ini sudah menjangkau 43 industri yang tersebar di beberapa kawasan di Batam. PGN juga sudah memiliki jaringan pipa di Kawasan Industri Batamindo, Panbil, Tunas, Puri, Kabil, Taiwan Industrial Park, Citra Buana 1 dan 3, Cammo Industrial Park, Latrade Industrial Park, Bintang Industri dan Excutive Industrial Park.

Sedangkan untuk pelanggan komersial, saat ini ada 67 pelanggan. Untuk jaringan pipa di kawasan ekonomis yakni Jodoh, Nagoya dan Batam Centre, PGN telah membangun jaringan pipa gas yang siap digunakan oleh masyarakat.

“Sampai saat ini, jumlah volume penggunaan CNG meningkat seiring dengan penambahan jumlah pelanggan komersial (hotel dan loundry). Rata-rata, PGN menyalurkan gas untuk pelanggan di Kota Batam sebesar 78 MMSCD (Million Metric Standard Cubic Feet per Day),” kata dia.

Dalam upaya memperluas pemanfaatan gas bumi ini, sambung Wendi, PGN tak hanya melayani kawasan industri, komersial dan pelanggan rumah tangga saja. Bahkan, sektor transportasi juga menjadi perhatian. Salah satunya, dengan hadirnya Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) yang terletak di Belian, Batam Centre, untuk pengisian Bahan Bakar Gas (BBG) kendaraan bermotor.

Di Batam, ada ratusan kendaraan yang sudah dipasang konverter kit, yakni piranti yang bisa mengubah penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) ke BBG. Sebelumnya, melalui penugasan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), PGN Batam membagikan konverter kit secara gratis untuk kendaraan angkutan umum jenis taksi dan mobil dinas pemerintah.

“Untuk segmen transportasi, jumlahnya sekitar 300 unit kendaraan yang menggunakan konverter kit,” ujarnya.

Ke depan, pihaknya juga berkomitmen untuk meningkatkan kualitas layanan sekaligus menambah infrastruktur pipa gas bumi demi menjangkau lebih banyak lagi pelanggan dari semua sektor masyarakat.

Untuk diketahui, pembangunan jaringan pipa ini sebagai komitmen PGN mendukung program pemerintah mewujudkan kemandirian energi melalui optimalisasi pemanfaatan gas bumi di dalam negeri.

Sekretaris PGN, Rachmat Hutama, beberapa waktu lalu menjelaskan, sebagai subholding gas, PGN akan mengambil peran di depan dalam program percepatan dan transformasi energi dari minyak bumi ke gas bumi. Kebijakan ini juga menjadi bagian dari perwujudan bauran energi gas bumi sebesar 22 persen pada 2025 dan 24 persen pada 2050. Menurut dia, bertambahnya populasi, meningkatnya aktivitas ekonomi, dan perubahan gaya hidup ke green energy atau energi ramah lingkungan, akan mendorong kebutuhan gas bumi yang semakin besar.

“Komitmen PGN adalah menyediakan energi baik gas bumi untuk rumah tangga dan para pelaku usaha dari berbagai sektor industri,” jelas Rachmat. ***

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com