SINDOBatam

Hattrick+

Jungkir Balik+

Kering Kentang Lauk Spesial di Bulan Puasa

  • Reporter:
  • Senin, 22 Mei 2017 | 10:18
  • Dibaca : 843 kali
Kering Kentang Lauk Spesial di Bulan Puasa
Foto Teguh Prihatna.

Setiap kali Ramadan, banyak makanan lezat disajikan untuk menu buka puasa. Tapi saat sahur, para bunda sering kali bingung menu apa yang harus dihidangkan. Eva Nurdin punya menu spesial yang enak sekaligus praktis, kering kentang.

Kering kentang bisa menjadi lauk untuk santap sahur. Tak perlu setiap hari memasaknya. Cukup sekali untuk satu bulan. Ya makanan ini termasuk tahan lama untuk ukuran lauk. Rasanya manis, pedas, dan renyah. Selain menjadi teman makan nasi, olahan kentang ini juga bisa dinikmati sebagai kudapan seperti halnya keripik.

Di beberapa daerah di Tanah Air, kering kentang cukup dikenal luas. Hanya bumbu dan metode pembuatannya sedikit berbeda. Ada yang digoreng kering, ada pula basah karena diberi banyak bumbu. “Orang Melayu lebih kenal kering kentang dengan sebutan kentang Mustofa. Dan lebih suka kering,” kata Eva Nurdin di rumahnya, Bengkong Kartini, Batam, Sabtu (20/5).

Eva pun lebih senang membuat yang garing dan tak banyak bumbu. Karena menurut wanita bernama lengkap Ena Noralina ini, bila menggunakan bumbu terlalu banyak, kentang tak lagi kering dan renyah. “Biasanya jadi melempem,” katanya. Eva hampir setiap hari membuat makanan ini. Karena kering kentang termasuk salah satu dari sekian jenis penganan yang ia produksi di rumahnya.

Mengolah kentang gampang-gampang susah. Terlebih lagi bila menggunakan kentang yang mengandung banyak air seperti kentang impor yang dipakai Eva selama ini. Bila tak pandai mengolahnya, potongan kentang akan menggumpal saat digoreng dan hancur bila dipisahkan.

Untuk menghasilkan kering kentang yang garing dan utuh, Eva punya cara sendiri. “Rendam kentang yang sudah dipotong dalam air kapur (sirih). Lalu bersihkan hingga bernar-benar bersih. Baru direbus dengan air garam,” katanya memberi tips.

Kentang impor dipilih Eva lantaran dia olah untuk dijual kembali, bukan untuk dikonsumsi sendiri. “Saya pakai kentang China. Lebih murah dan selalu ada stok di pasar. Kentang Medan harganya lebih mahal dan kadang tidak ada barangnya,” kata Eva memberi alasan. Meski begitu Eva mengaku kualitas kentang lokal lebih baik.

Bahannya sederhana. Hanya kentang, kacang tanah, dan ikan teri. Bumbunya pun mudah dicari: cabai kering, bawang putih, gula, dan garam. Seperti orang Melayu kebanyakan, Eva memilih cabai kering untuk masakannya. “Cabai merah biasa juga bisa. Tapi kalau cabai kering lebih cantik warnanya,” kata wanita asal Belakangpadang ini. Rasanya juga tak terlalu pedas sehingga anak-anak dapat menikmatinya. Itu lantaran perbandingan kentang dan cabai yang dipakai Eva cukup jauh. “Untuk 25 kilogram kentang, saya pakai 200-300 gram cabai,” katanya.

Menurut Eva, makanan ini bisa bertahan hingga setahun bila digoreng kering dan disimpan dalam wadah tertutup rapat. Selain untuk menu sahur dan berbuka puasa, kering kentang biasa disajikan saat kenduri atau acara-acara tertentu. “Bisa juga untuk pelengkap nasi kuning, lontong sayur, untuk bekal orang berangkat haji, atau sekarang jadi makanan oleh-oleh,” katanya.

Kering kentang buatan Eva yang diberi label Fadillah banyak dipesan orang Melayu Singapura dan Malaysia. Untuk meudahkan pelanggan, Eva menitipkan kering kentangnya ke beberapa mal di Batam. “Ada yang pesan langsung lewat facebook, ada yang beli di supermarket atau toko oleh-oleh di mal,” kata Eva senang.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com