SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Kudapan Renyah Bolen Pisang Erlin

  • Reporter:
  • Senin, 24 April 2017 | 09:53
  • Dibaca : 1456 kali
Kudapan Renyah Bolen Pisang Erlin
Foto Teguh Prihatna.

Mendengar bolen pisang pasti teringat Bandung. Kue ini dikenal sebagai makanan oleh-oleh kota itu. Tak perlu pergi ke sana untuk dapat menikmatinya. Karena bisa dibuat di dapur sendiri, seperti yang dilakukan Erlin.

Bolen pisang berbeda dengan pisang molen. Meski sama-sama berbahan dasar pisang dan memiliki kata hampir mirip, kedua kudapan ini jauh berbeda dari segi adonan dan cara pembuatan. Pisang molen hanya dibalut tepung terigu lalu digoreng. Sedangkan bolen pisang lebih rumit karena dipanggang dalam oven serta menggunakan banyak bahan.

“Bolen pisang itu pastri. Enaknya bolen itu tidak pakai pengembang, tidak pakai telur. Membuatnya gampang. Dilipat-lipat, gilas, diamkan. Gilas lagi lalu panggang,” kata Erlin di rumahnya di Griya Batuaji Asri, Batam, Sabtu (22/4).

Bolen pisang adalah sejenis pastri yang dipopulerkan sebuah toko kue di Bandung, Jawa Barat. Sejak itu, makanan ini menjadi salah satu oleh-oleh wajib orang yang berkunjung ke sana. Dari situ pula banyak toko kue besar dan kecil berlomba memproduksi kue ini, baik di Bandung maupun kota-kota lainnya.

Erlin yang asli Bojonegoro, Jawa Timur mengaku mengenal bolen pisang justru dari sebuah toko bakery di Batam, bukan Bandung. “Saya malah tahu dari toko kue. Saya beli, kok enak. Tapi pisangnya sepertinya sudah lama. Saya coba bikin. Cari resep di internet. Lalu ikut kelas baking,” kata wanita bernama lengkap Susi Erlinawati ini.

Menurut Erlin, kekhasan bolen pisang ada pada korsvet, bahan khusus pastri yang disebut pastry margarine atau lemak pastri.Teksturnya yang berlapis-lapis membuat pastri menjadi renyah. Namun saat disantap akan meninggalkan rasa kesat di lidah dan rongga mulut. Erlin tak menggunakan bahan ini untuk bolen pisangnya. “Korsvet-nya bikin sendiri. Bahan A untuk pengganti korsvet. Rasanya renyah juga tapi tidak terasa seperti pakai korsvet,” katanya.

Adonan yang ia siapkan ada dua. Pertama adalah pengganti korsvet, terdiri dari campuran butter, margarin, tepung terigu, dan sedikit minyak goreng. Adonan kedua dibuat dari terigu, butter, margarin, gula halus, dan air. Kedua adonan diuleni terpisah. Setelah kalis didiamkan 15 menit. “Kalau mau adonan lebih lentur, diamkan 5 jam,” katanya. Lalu adonan ditumpuk, digilas, dan dilipat seperti amplop dan digilas lagi. Proses lipat-gilas dilakukan dua kali.

Buah pisang yang cocok untuk isian (filling) bolen adalah pisang barangan, pisang raja, pisang tanduk, atau pisang kepok. “Saya suka pisang barangan karena banyak mengeluarkan madu. Tahan lama juga. Pisang raja juga bisa. Pisang tanduk lebih wangi, pilih yang matang karena mengeluarkan madu,” kata ibu dua anak ini memberi tips. Selain pisang, bisa menggunakan cokelat, selai kacang merah, selai kacang hijau, tapai, keju, atau kombinasi sesuai selera.

Erlin membagikan resep bolen pisangnya kepada ibu-ibu yang ingin mencoba membuat sendiri di rumah. Ia juga membuka kelas baking di rumahnya. Seminggu tiga kali, sekitar 6-8 orang belajar membuat aneka kue termasuk bolen pisang, bolu gulung, dan dimsum. “Banyak yang nge-tag saya (di media sosial) padahal nggak pernah woro-woro. Mereka minta diajari. Ada yang dari Tanjunguma, Nongsa, Lobam. Saya juga buka kelas untuk guru dan karyawan,” katanya senang.

Wanita Harus Punya Keterampilan
Erlin terbilang aktif dalam komunitas memasak Batam Cooking Lover. Karena itu ia dipercaya untuk mengkoordinasikan anggotanya yang sebagian besar ibu rumah tangga di wilayah rumahnya, Batuaji. Di area ini, cukup banyak ibu-ibu yang bergabung di komunitas. Setiap Senin, Rabu dan Sabtu, rumahnya dipenuhi ibu-ibu yang semangat belajar membuat kue.

Peserta yang ikut kelas baking tidak cuma anggota komunitas areal Batuaji, bahkan ada yang dari Lobam, Karimun. Informasi soal kelas bakingnya menyebar lewat media sosial. “Saya bikin jadwal kelas. Kemarin bikin dimsum. Tadi bolen pisang. Mereka antre ingin ikut kelas. Jadi diprioritaskan yang sudah daftar lebih dulu,” kata istri dari Agus Purwanto ini.

Di bawah koordinasinya, kegiatan belajar masak-memasak dan membuat kue cukup aktif digelar. Tak hanya Erlin yang menjadi pengajarnya, anggota lain yang punya resep berbeda secara sukarela membuka kelas di rumah mereka secara bergiliran.

“Setiap bulan juga diadakan latihan bersama. Ada lomba juga. Yang menang dapat doorprize dari donatur. Meski Cuma sekadarnya mereka senang juga dapat doorprize,” katanya. Pada latihan bersama itu, beberapa orang anggota siapkan untuk menjadi mentor yang akan mengajari beberapa kelompok peserta.

Bagi Erlin, ketrampilan memasak harus dimiliki wanita. Karena memasak bisa menjadi modal bagi yang ingin membuka usaha kuliner dari rumah. “Sebagai istri, kita harus punya skill. Untuk jaga-jaga kalau terjadi apa-apa. Saya senang banyak ibu-ibu yang buka PO (terima pesanan) setelah belajar bikin kue,” katanya.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com