SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Pemko Batam Bongkar Bangunan Ganggu Drainase

Pemko Batam Bongkar Bangunan Ganggu Drainase
Walikota Batam Rudi. DOK SINDO BATAM

BATAM KOTA – Buruknya sistem drainase menjadi pemicu masalah banjir di Batam. Sebagian di antaranya merupakan ulah pengembang yang tak memperhatikan lingkungan, meski sudah berulang kali diingatkan Pemko Batam sebelum melaksanakan proyek pembangunan.

Masalah ini juga sudah sering kali diingatkan Wali Kota Batam Muhammad Rudi agar memperhatikan lingkungan sebelum membangun, terutama masalah drainase. Bahkan beberapa kali Pemko Batam memanggil pengembang untuk membahas hal ini, namun masih ada saja pengembang nakal yang tak mengindahkan saran pemerintah dan mengerjakan pembangunan tanpa mempedulikan lingkungan sekitar.

Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Batam Yumasnur mengatakan, sudah sering kali pembangunan yang dilaksanakan pengembang berimbas terjadinya banjir di pemukiman warga. Terakhir banjir lumpur menerjang Perumahan Simpang Raya, Batam Centre, Minggu (7/5). “Ini nanti saya ke sana lihat kondis banjir,” ujarnya di Kantor Wali Kota Batam, Senin (8/5).

Banyaknya titik banjir disebabkan ketidak pedulian dari pengembang membuat Pemko Batam kewalahan. Bahkan jumlah titik banjir saat ini terus bertambah di titik-titik baru. Penyebabnya sama, selain karena tak membangun drainase, juga adanya penyempitan drainase. “Sebelumnya kami temukan juga di Sagulung. Jalan masuk menuju perumahan dibangun gorong-gorong tak sesuai dengan lebar darainase yang ada,” kata Yumasnur.

Saat ini, pihaknya masih memberikan toleransi bagi pengembang dengan memberi waktu untuk memperbaiki hal tersebut sebelum nantinya Pemko bertindak.

Yumasnur mengimbau pengembang untuk memperhatikan sistem drainase, terutama pengembang yang baru menyiapkan lahan. “Pengembang harus perhatikan lingkungan sekitar, baik sebelum membangun maupun setelah pembangunan,” katanya.

Jika dari awal pengembang tidak memperhatikan hal tersebut, masalah banjir di Batam tak akan selesai. Dia meminta pengembang bisa bekerja sama dengan pemerintah untuk menangani masalah banjir saat ini. “Air tak bisa kita bendung, harus dialirkan melalui darinase,” ujarnya.

Usaha Pemko Batam dalam mengatasi banjir dilaksanakan dengan modal yang cukup besar karena harus membeli lima alat berat guna mengeruk drainase di kawasan rawan banjir. Alat berat juga akan digunakan membongkar secara paksa jika ada bangunan yang mengganggu sistem drainase.

Bahkan melalui Dinas Bina Marga dan Sumber Air sudah menyiapkan mekanisme peringatan bagi para pengembang. “Sudah kami sampaikan berulang kali,” kata Wali Kota Batam Muhammad Rudi.

Dalam pantauannya beberapa waktu lalu, salah satu pengembang di Simpang Frengki sudah diperingatkan untuk membuat talang air dan juga drainase agar air hujan bisa mengalir dan tak meluap ke jalan. “Gimana lagi, sudah kami peringati,” ujarnya.

Banyaknya drainase tersumbat akibat bangunan di atasnya hampir terjadi di semua wilayah di Batam. Bahkan, banjir saat ini semakin parah meskipun hujan dalam tempo tak begitu lama.

Hal ini tak hanya karena sistem drainase yang buruk, juga banyaknya hutan yang sudah gundul akibat cut and fill. Rudi berharap ke depan perizinan cut and fill harus selektif dan mempertimbangkan lingkungan yang ada. “Di mana-mana hutan sudah gundul semua,” katanya.

Butuh Bantuan Pusat

Pemerintah pusat melalui satuan kerja Balai Wilayah Sungai (BWS) membantu pembangunan drainase primer di Batam. Pembangunan drainase ini dalam rangka menyelesaikan masalah banjir.

“Berdasarkan paparan camat, titik banjir ada 68 titik. Ada enam titik yang skalanya cukup besar, yang kami harapkan peran dari BWS untuk selesaikan itu. Untuk drainase primer diharapkan dukungan dari BWS,” kata Wakil Wali Kota Batam Amsakar Achmad.

Enam titik yang dimaksud yaitu Seibeduk, Marina City, Melcem Tanjungsengkuang, Kartini Raya, Legenda Malaka, dan kawasan Batam Centre dari Rumah Makan Pak Datuk ke Perumahan Livia hingga Bengkong.

Menurut Amsakar, tahun ini pemerintah daerah menganggarkan pembuatan detailed engineering design (DED) untuk pembangunan drainase di dua titik. Pertama di Seibeduk telah selesai DED-nya. Kedua, untuk lokasi Marina City, yang diupayakan pada APBD perubahan.

“DED kami yang siapkan, yang bangun fisik pusat. BWS ini ada dana Rp30 miliar untuk Batam tapi tidak hanya drainase, waduk juga. Tapi tadi saya minta agar prioritaskan drainase,” ujarnya.

Amsakar mengatakan banjir di Kota Batam ini disebabkan tujuh hal. Pertama perubahan tata guna lahan. Kedua, kapasitas atau daya tampung drainase tak dapat imbangi curah hujan dan pertumbuhan penduduk. Ketiga, kesadaran masyarakat rendah terlihat dari banyaknya sampah botol plastik di saluran air. Sebab keempat adalah arus balik (back water) dari laut yang menyebabkan air hujan tidak mengalir lancar. Hal ini terjadi di perumahan Kartini Raya dan Marina City. “Sebab kelima curah hujan. Keenam, pendangkalan, penyempitan hulu hilir titik drainase. Sedangkan ketujuh, penegakan hukum, PPNS yang terbatas,” kata Amsakar.

fadhil/iwan sahputra

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com