SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Pengangguran Pilih Pulang Kampung

Pengangguran Pilih Pulang Kampung
Antrean pencaker. Foto Arrazy Aditya,.

Imelda Putri Sitio menggenggam secarik kertas bertuliskan nomor 103. Duduk di kursi tunggu bagian belakang di kantor BPJS Ketenagakerjaan di Sekupang, Jumat (9/6), ia hendak mengajukan klaim Jaminan Hari Tua (JHT).

Tas ransel berbahan kain warna coklat ditaruh di pangkuannya. Kertas nomor antrean tak lepas dari genggaman tangan kirinya. Sementara display baru menunjukan nomor 52.

“Masih lama. Tapi tak apalah, yang penting harus selesai hari ini,” ujarnya, Jumat (9/6).

Melda, ia biasa disapa mengaku sudah tujuh bulan menganggur. Terakhir kali bekerja di salah satu perusahaan elektronik di kawasan industri Sekupang. Kontrak ketiganya terpaksa tak disambung, kerena perusahaan tempatnya bekerja sedang melakukan efisiensi.

“Tak ada barang, jadi banyak yang tak disambung. Bahkan ada yang kontraknya dipercepat,” jelasnya.

Setelah diputus kontrak, dia tak punya penghasilan apapun. Untungnya dia punya sedikit tabungan, sehingga mampu membiayai kebutuhannya sehari-harinya selama tujuh bulan.

Selama menganggur, dia sudah pontang panting cari kerja. Setiap ada kabar lowongan kerja, buru-buru dia bergegas mengirim lowongan. Antrean di Community Centre Mukakuning adalah tempat tongkrongannya hampir tiap hari.

“Saya ikut berebut masukin lowongan kalau ada penerimaan. Tapi tak ada yang lolos,” tuturnya.

Dia sudah ada di Batam sejak 2011. Menurut dia, kondisi tahun ini yang paling sulit. Biasanya, dia selalu dapat pekerjaan ketika habis kontrak. Namun saat ini, dia kesulitan dapat kerja. Karena kesempatan kerja sedikit, sementara pencari kerja semakin banyak.

“Lowongan untuk 11 orang, tapi diserbu sampai ribuan orang. Saya pernah hampir pingsan karena sudah tak kuat lagi. Bayangkan pergi dari pagi, belum makan langsung desak-desakan seperti itu,” kisahnya.

Tujuh bulan menganggur tanpa penghasilan ternyata menguras tabungannya. Kini persediaan uangnya menipis, sementara pemasukannya tak ada sama sekali.
Dia memutuskan menyerah mencari kerja di Batam. “Kalau baca koran, saya jadi seram. Bukannya nambah, malah banyak perusahaan yang tutup,” ujarnya.

Rencananya dia akan pulang kampung ke Sumatera Utara. Dia sudah beli tiket Pelni tujuan Belawan H-3 lebaran. Dia tak lagi berjuang untuk mencari pekerjaan di Batam.

Rencananya, Melda akan buka warung di tanah kelahirannya. Dia yakin mampu membenahi keuangannya dengan cara itu. Untuk modal awal, dia akan pakai uang klaim BPJS Ketenagakerjaan yang sudah dikumpulkannya sejak 2011 silam.

“Kalau dihitung-hitung, cukup buka warung kecil-kecilan. Yang penting bisa makan,” ujarnya.

Tak hanya Imelda, Halomoan Hutagalung juga menyerah mencari kerja di Batam. Dia datang ke Batam sejak 2006 silam. Lebih kurang 11 tahun, dia malang melintang di kota Industri ini.

Sejak 2006, dia tak pernah menganggur lama. Keahlian mengelas membuat pria lulusan SMK Permesinan ini tak sulit mendapat kerja. Apalagi ketika kejayaan industri galangan kapal di Batam, rezekinya mengalir bagai air.

Namun awal 2016, dia terkena gelombang PHK. Perusahaan tempatnya bekerja tutup, karena tak sanggup membiayai operasional perusahaan. Main Contraktor yang biasanya menggunakan jasa perusahaannya sudah tak punya pekerjaan.

“Kami juga akhirnya tutup. Tak ada kerja,” ungkapnya.

Dia menerima sejumlah uang pesangon. Jumlahnya cukup besar, karena dia sudah mengabdi cukup lama di perusahaan tersebut. Tapi uang tersebut tetap saja terbatas. karena dia harus menghidupi isteri dan dua anaknya.

“Yang paling besar sudah kelas 2 SD,” jelasnya.

Selama 1,5 tahun sejak di PHK, Halomoan kerja serabutan. Kadang jadi tukang bangunan, kadang terima ajakan temannya jadi kernet angkot. Tapi tawaran tak datang setiap hari, karena yang antri mau jadi Kernet angkot cukup banyak.

April lalu, dia mendapat tawaran membantu usaha kilang beras orangtuanya di tanah kelahirannya di Jambi. Dia sempat ragu menerima tawaran pulang kampung. Tapi karena dua bulan tak juga ada kemajuan, akhirnya dia terima tawaran tersebut.

Halomoan akan mencairkan dana Jaminan Hari Tua (JHT) untuk membiayai kepindahannya ke Jambi. Dia juga sudah mengurus surat pindah serta anak dan istrinya ke Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Batam. Bahkan surat pindah sekolah untuk anaknya juga sudah selesai diurus.

“Kebetulan opungnya sudah carikan sekolah di sana,” ujarnya.

Lowongan Seratus, Pencaker Capai Ribuan
Kesempatan kerja di Batam tidak sebanding dengan jumlah para pencari kerja (pencaker). Di Kawasan Batamindo, tak jarang mereka harus rela berdesak-desakan, lantaran lowongan kerja untuk ratusan tenaga saja namun yang melamar hingga ribuan orang.

Akibatnya, tidak jarang kericuhan terjadi. Aksi dorong dan tidak tertib kerap kali terjadi di lokasi. Para pencaker berebut untuk memasukkan surat lamaran.

“Lowongan hanya untuk 100 orang, ini yang melamar hampir 2.000 lebih. Apa tidak ricuh, mereka berebut masukin lamaran,” kata Heru perwakilan PT Tunas Karya, penyalur salah satu perusahaan di Batamindo.

Menurut dia, kondisi ini imbas dari banyaknya perusahaan asing yang hengkang dari Batam. Alhasil, kondisi perekonomian Batam semakin lesu dan jumlah pemutusan kontrak kerja terus meningkat.

Di sisi lain, ribuan pencaker selalu memadati Kawasan Batamindo setiap harinya. Padahal belum tentu ada perusahaan yang membuka lowongan saat itu.

“Kami memang memilih selektif, sesuai syarat dan ketentuan yang diminta perusahaan. Makanya banyak yang kecewa karena tidak diterima,” katanya.

Aidah, salah seorang pencaker asal Medan yang sudah merantau di kota industri ini sejak 2016 mengaku sangat kesulitan mencari kerja sejak awal 2017. “Sudah hampir lima bulan saya tidak dapat kerja, setiap hari mondar-mandir ke sana kemari tapi tidak dapat juga kerja,” ujarnya.

Ia mengaku sudah dua kali kembali ke Batam mencari pekerjaan. Namun hasil pahit harus ia terima lantaran tidak kunjung mendapat pekerjaan. Akhirnya, ia memutuskan kembali ke kota kelahirannya untuk bekerja.

“Awal ke Batam sempat kerja, tapi sempat pulang. Tapi pas kembali lagi malah tidak dapat kerja. Saya memutuskan untuk kembali ke kampung aja nanti,” katanya.

Hal yang sama juga dirasakan Mira (22). Ia menuturkan, sudah dua tahun belakangan ini berusaha mencari pekerjaan di Batam. Namun hasilnya belum maksimal, sehingga ia hanya beraktivitas kuliah saja.

“Sudah coba cari sana kemari, tiap hari keliling. Minta bantu sama saudara pun juga sudah, tapi memang sulit sekali lapangan kerja di Batam,” katanya.

Menurut Mira, selain kurangnya lapangan pekerjaan saat ini, permasalahan e-KTP yang menjadi syarat melamar juga menjadi kendala ia mencari pekerja. Pasalnya, sudah hampir setahun dirinya tidak memiliki KTP lantaran blangko di kecamatan habis.

“Memang kita ada dikasih surat sementara dari kecamatan untuk mencari pekerjaan, tapi surat itu tidak berguna lantaran PT memilih calon karyawan yang sudah memilih e-KTP,” katanya.

Hal lain dilakukan Zulhelmi. Pria asal Sumatera Barat tersebut lebih memilih bekerja ke negara tetangga untuk bisa terus bertahan hidup. Ia yang sebelumnya mencari pekerjaan di Batam sejak 2016 akhirnya memutuskan bekerja di Malaysia.

“Lama juga nganggur di Batam, dulu kata saudara banyak kerja di sini dengan gaji lumayan. Tapi sampai di sini malah gak dapat-dapat kerja, malah nganggur hampir setahun,” katanya.

Setelah sekian lama menganggur, akhirnya ada rekan yang menawari Zulhelmi bekerja di Malaysia dan Singapura. Meski hanya menjaga toko di pasar malam, mau tidak mau ia mengambi pekerjaan tersebut untuk memenuhi kebutuhannya.

“Gak ada pilihan lain, saya ambil saja. Meski gajinya tidak seberapa karena biaya hidup di sana cukup tinggi dan mahal. Yang penting bisa hidup. Saya sangat berharap ada lowongan kerja di Batam, supaya tidak usah jauh-jauh kerja di negeri orang,” kata pria lulusan sarjana tersebut.

Yakinkan Investor
Pengamat Ekonomi Kepri Rafki Rasyid mengatakan, Pemko Batam bisa mendorong pertumbuhan ekonomi dengan mempercepat realisasi belanja dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

“Proyek yang sudah ditetapkan harus segera dikerjakan. Jangan ditunda-tunda. Belanja pemerintah ini bisa membantu menaikkan pertumbuhan ekonomi dan menyerap tenaga kerja yang menganggur,” katanya. Minggu (11/6).

Selain itu, Pemko mendorong sektor entrepreneurship. Tidak saja dalam bentuk sosialisasi, tapi langsung membuat inkubasi kewirausahaan untuk melahirkan para entrepreneur baru.

“Kegiatan ini juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru dan menyerap pengangguran,” ujarnya.

Sedang untuk jangka panjang, Pemko harus tetap memikirkan bagaimana mendatangkan investor sebanyak-banyaknya ke Batam. Dualisme kepemimpinan di Batam harus diselesaikan dengan baik agar investor tidak ragu berinvestasi di Batam.

Pemko dan BP Batam harus bersinergi menarik investor. Jangan lagi ada kesan, adanya persaingan antar lembaga yang dipandang negatif oleh investor.

“Untuk prospek ke depan, Batam berpotensi bangkit dan keluar dari krisis. Semua pihak harus bahu membahu berusaha keluar dari krisis sekarang,” katanya.

Menurut dia, pulangnya ribuan penduduk Batam ke tempat asalnya bisa dipandang sebagai fenomena sementara sembari menunggu kondisi ekonomi membaik.

Meski, harus diakui lemahnya kondisi ekonomi Batam tidak lepas dari turunnya permintaan global akibat harga minyak dunia turun sejak beberapa tahun lalu.
Puncaknya tahun ini ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang hanya dua persen.

“Dengan pertumbuhan ini jelas tidak mampu membuka lapangan pekerjaan baru sehingga dipastikan pengangguran meningkat,” katanya.

sarma haratua siregar/muhammad arief/iwan sahputra

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com