SINDOBatam

Hattrick+

Jungkir Balik+

Pengebom Tiga Gereja Satu Keluarga

  • Reporter:
  • Senin, 14 Mei 2018 | 08:43
  • Dibaca : 58 kali
Pengebom Tiga Gereja Satu Keluarga

SURABAYA – Bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya dilakukan oleh satu keluarga: ayah, ibu, dan empat orang anak. Mereka merupakan jaringan Jamaah Ansarut Tauhid (JAT) dan Jamaah Ansarud Daulah (JAD) yang merupakan pendukung utama ISIS di Indonesia.

Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian menjelaskan, sebelum beraksi di tiga gereja tersebut pelaku Dita Apriyanto bersama istrinya, Kuswati dan dua anaknya Fadhilah Sari dan Pamela Rizkita, berangkat menggunakan mobil Toyota Avanza yang telah dipasang bom. Dita lalu menurunkan istri dan anaknya di GKI Jalan Diponegoro, kemudian dia pergi menuju Gereja Pantekosta.

Pada saat yang sama dua pelaku lain yang juga anak-anak pasangan itu, Yusuf Fadhil dan Firman Halim, berangkat dengan sepeda motor ke Gereja Santa Maria. Setelah semua keluarga di-drop, Dita kemudian meledakkan mobil tersebut di Gereja Pantekosta. “Ledakan paling besar terjadi di Gereja Pantekosta karena menggunakan bom mobil,” ujar Tito saat konferensi pers mendampingi Presiden Jokowi di RS Bhayangkara Surabaya kemarin.

Tito menjelaskan, pelaku bom bunuh diri merupakan satu keluarga yang baru pulang dari Suriah belajar strategi teror, kemiliteran, dan membuat bom. Mereka merupakan bagian dari 500 orang yang dideportasi dari negara tersebut. “Sisa dari 500 itu masih berkeliaran,” ungkap jenderal bintang empat ini.

Menurut Tito, motif di balik aksi teror bom ini diduga karena di tingkat internasional ISIS ditekan oleh kekuatan baik dari Barat seperti Amerika maupun Rusia. Keadaan terpojok itu membuat para pemimpin ISIS memerintahkan semua jaringan untuk melakukan serangan pada seluruh dunia, termasuk di Indonesia. “ISIS mempunyai pendukung utama di Indonesia, yakni kelompok JAD dan JAT. JAT didirikan Aman Abdurrahman, yang saat ini tengah ditahan di Mako Brimob. Adapun satu keluarga yang merupakan pelaku bom bunuh diri di Surabaya adalah sel-sel dari JAD,” ungkap mantan kepalda Polda Metro Jaya ini.

Di Indonesia, JAD dan JAT memiliki sel-sel yang ada di sejumlah daerah di Indonesia, salah satunya Surabaya. Setelah Aman ditangkap, dia lalu digantikan oleh Zainal Ansori. Zainal juga sudah berhasil ditangkap atas tuduhan kepemilikan senjata api. Nah, karena pimpinan ISIS di Indonesia ditangkap, para anggotanya JAD maupun JAT melakukan aksi pembalasan.

Salah satunya dengan melakukan aksi kekerasan di Mako Brimob yang menewaskan lima orang polisi dan seorang napi teroris. Polisi juga sempat mengamankan empat orang terduga teroris di Karawang, Jawa Barat. “Kami, Polri bersama TNI dan BIN, akan merapatkan barisan. Kami akan menangkap sel-sel JAD. Persoalannya, sel-sel ini tahu bagaimana cara menghindari deteksi polisi,” ungkap Tito.

Sel-sel kelompok teror ini memiliki buku panduan tentang bagaimana cara melawan interogasi polisi. Tito mengaku sudah memegang buku panduan tersebut. Aksi teror ini, kata dia, dilakukan oleh kelompok kecil organisasi teror. Pihaknya akan maksimal dalam melakukan pemberantasan kelompok ini.

Dia yakin bahwa kelompok teror tidak akan sanggup mengalahkan negara. Pihaknya meminta agar rakyat Indonesia bersatu dan mendukung langkah-langkah penindakan yang dilakukan oleh Polri. “Kami meminta agar UU Nomor 15/2003 tentang Pemberantasan Terorisme segera bisa direvisi sehingga kami bisa melakukan penindakan terorisme secara maksimal,” tambahnya.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com