SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Stasiun Antariksa China Jatuh ke Atmosfer Bumi

  • Reporter:
  • Selasa, 3 April 2018 | 12:49
  • Dibaca : 135 kali
Stasiun Antariksa China Jatuh ke Atmosfer Bumi

BEIJING – Stasiun antariksa China, Tiangong-1, masuk ke atmosfer Bumi pada hari ini. Ketidakberesan Tiangong-1 sudah di ketahui sejak 2016 melalui satelit lain.

Muncul kekhawatiran serpihan satelit Tiangong-1 bisa mengancam keselamatan manusia di Bumi. Badan Antariksa China (China Manned Space Engineering Office/MNSEO) menyata kan adanya laporan Tiangong-1 masuk atmosfer Bumi itu kemarin. Namun MNSEO tidak menjelaskan dengan pasti kapan benda antariksa itu masuk atmosfer. Tidak ada sa tu pihak pun yang yakin dengan pasti di ma na serpihan benda antariksa itu akan men darat, tapi banyak pakar yakin se ba gian besar stasiun antariksa itu akan terbakar di atmosfer.

Beijing menyatakan tidak mung kin ada bagian berukuran besar yang men capai permukaan tanah atau laut. Organisasi Kesadaran Situasi Antariksa Nasional Korea Selatan (Korsel) menyata kan da lam website -nya bahwa stasiun itu akan ma suk kembali ke atmosfer sekitar pukul 5.12 pa gi dan 1.12 sore waktu Seoul, hari ini. Tia ngong-1 dengan panjang 12 me ter itu di lun cur kan pada 2011 untuk m e la ku – kan berbagai eks perimen orbit dan per kai tan sebagai ba gian dari program an ta rik sa am bisius China yang bertujuan m e ma sang sta siun permanen di orbit pada 2023. Laboratorium antariksa itu awalnya direncanakan dinonaktifkan pada 2013, tapi mi sinya kembali diperpanjang beberapa kali.

China menjelaskan, stasiun antariksa itu akan masuk kembali ke atmosfer Bumi pada akhir 2017, tapi proses itu ditunda. Kondisi itu membuat beberapa pakar menduga labora torium antariksa itu tak terkontrol. Peristiwa ini mengingatkan du nia antariksa mengenai jatuh nya stasiun luar angkasa Ame rika Serikat (AS) Skylab pada 1979 yang hancur bagaikan de bu di Australia. Kantor Luar Ang k asa Lembaga Luar Ang kasa Eropa (European Space Agency/ESA) yang berkantor pusat di Darmstadt, Jerman, memper kirakan Tiangong-1 jatuh an tara 30 Maret sampai 2 April. Berdasarkan kemiringan ja – lur orbitnya, Tiangong-1 akan ber ada di antara 43 derajat lin – tang utara dan 43 lintang se latan.

ESA menjelaskan, lokasi jatuh nya stasiun antariksa itu da – lam rentang utara dan selatan kha tulistiwa. Itu artinya sta – siun itu dapat jatuh di mana pun an tara Selandia Baru hingga wilayah barat Amerika Serikat (AS). “Wilayah di atas atau di bawah lintang itu bisa di ke cua likan dari lokasi jatuhnya Tiangong-1. Jika sudah dekat, ramal an waktu dan lokasi jatuhnya Tiangong-1 dapat dihitung le b ih akurat,” ungkap ESA dalam keterangan persnya seperti d i kutip scientificamerican.com. ESA menyatakan proyeksi ter baru Tiangong-1 akan ma – suk ke atmosfer Bumi pada pu – kul 7.25 waktu Beijing pada 2 Ap ril meski periodenya masih sa ngat tinggi, antara Minggu (1/4) siang hingga Senin (2/4) pa gi.

Ketidakberesan Tia – ngong-1 sudah diketahui sejak 2016 lewat satelit lain. Laboratorium berbobot 8,5 ton yang diluncurkan pada 2011 itu sempat mengorbit di jalur orbit bumi rendah, yakni 362 km dari permukaan bumi. Satelit sepanjang 12 meter itu sempat akan diturunkan pada 2013, tetapi tidak jadi tanpa ada alasan jelas. Fisikawan antariksa dari Harvard-Smithsonian Center, Jonathan McDowell, menilai, in siden ini mencoreng ambisi Chi na untuk mendominasi an – ta riksa. “Mereka akan merasa ma lu. Bahaya nyata terhadap ma nusia kecil. Namun dalam prak tik internasional, objek besar seharusnya tidak jatuh dari la ngit dengan kondisi seperti ini,” ujar McDowell seperti di kutip CNN.

Joan Johnson-Freese, profe sor Sekolah Perang Laut AS dan mantan Kepala Urusan Keaman an Nasional, mem pre diksi dalam skenario terburuk, serpih an itu kemungkinan menghan tam area padat penduduk dan mengeluarkan zat beracun hydrazine.Zat hydrazine jika terhirup dalam jangka pendek bisa me nyebabkan batuk, iritasi teng gorokan dan paru-paru, ser ta kejang-kejang. Beberapa pakar menj e las – kan proses jatuhnya stasiun anta riksa itu. “Tingkat kecepatan ja tuhnya akan meningkat saat at mosfer menggesek stasiun an tariksa itu menjadi lebih kecil,” ungkap Dr Elias Abou tanios, Deputi Direktur Aus tralian Centre for Space Engineering Re search, kepada BBC.

“Stasiun an tariksa itu akan mulai me manas saat mendekati ketinggian 100 km dari permukaan Bumi. Ini akan membuat sebagian b e – sar stasiun terbakar dan sulit me ngetahui dengan pasti apa yang akan bertahan karena bagi an stasiun itu tidak diungkap oleh China,” imbuhnya. Stasiun antariksa itu dapat jatuh dengan kecepatan hingga 26.000 km per jam. “Serpihan an tariksa biasa turun dan se bagi an besar terbakar atau jatuh di laut an dan jauh dari orang,” papar Aboutanios. Biasanya masih ada komunikasi dengan stasiun antariksa atau satelit itu. Ar tinya kontrol darat masih dapat memengaruhi jalur ja tuhnya stasiun antariksa tersebut.

Publik diminta tidak terlalu kha watir dengan insiden ini kare na sebagian besar dari stasiun an tariksa itu diperkirakan hancur saat melintasi atmosfer. Bebe rapa bagian yang padat se perti tangki bahan bakar atau me sin roket mungkin tidak ter ba kar selu ruhnya tapi bagian tersebut sangat jarang mengenai ma nusia.

Syarifudin/muh shamil

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com