SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Bumi Garuda Benar-benar Merdeka dari “Jajahan” Sinyal Negeri Singa

  • Reporter:
  • Kamis, 15 Agustus 2019 | 21:40
  • Dibaca : 272 kali
Bumi Garuda Benar-benar Merdeka dari “Jajahan” Sinyal Negeri Singa
Warga Batam menelepon sambil memandang Singapura dari Pantai Tanjungpinggir, Batam Kepri, belum lama ini. /FADHIL

DULU, luapan sinyal dari operator seluler luar negeri kerap masuk ke telepon seluler warga yang berada di wilayah pesisir Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Letak Batam yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia diduga jadi penyebab adanya kebocoran sinyal dari negeri jiran tersebut. Namun, kegalauan warga yang tinggal di daerah pesisir yang kerap terkena roaming internasional sudah berakhir. Kini, warga bebas menggunakan layanan telekomunikasi dan internet tanpa “jajahan” sinyal Negeri Singa.

FADHIL, Batam

Menara kembar tiga yang menopang kapal di atasnya, tampak menjulang ke langit. Bangunan raksasa lainnya terlihat berjajar di samping kanan dan kirinya. Menara itu tak lain adalah Marina Bay Sands Singapura, salah satu gedung yang jadi ikon Negeri Singa. Bangunan yang merupakan pusat hiburan terpadu dan menghadap ke Teluk Marina di Singapura itu tampak jelas terlihat. Padahal, pengamatan dilakukan dari kawasan pesisir Tanjungpinggir, Kecamatan Sekupang, Kota Batam, sekitar 25 kilometer jaraknya dari Singapura.

Meski berdekatan, namun pemandangan dua kawasan itu jauh berbeda. Berada di batas negara, kawasan pesisir Tanjungpinggir memang bertolak belakang dengan Singapura. Di wilayah ini, tak ada gedung tinggi menjulang. Hanya ada beberapa rumah tapak yang didirikan berderet. Sebagian di antaranya dijadikan semacam warung kecil.

Meski begitu, pemandangan alam di pantai Tanjungpinggir cukup menawan. Di sini, terdapat pantai pasir putih serta hutan hijau yang masih alami. Pengunjung yang datang bisa bermain pasir, menikmati deburan ombak atau sekadar mengabadikan gambar dengan latar belakang gedung-gedung di Singapura. Tak heran, meski letaknya jauh dari jalan raya, kawasan pesisir Tanjungpinggir selalu dikunjungi warga lokal Batam dan juga pelancong dari luar kota.

Salah satunya, Mardiana. Wanita yang berasal dari Selatpanjang, Kabupaten Meranti, Provinsi Riau ini sudah lima tahun tinggal di Batam. Ia mengikuti suaminya yang bekerja di Batam. Mardiana mengaku sudah beberapa kali mengunjungi pantai Tanjungpinggir. Selain menikmati keindahan pantai, ia juga suka melihat deretan gedung-gedung pencakar langit Singapura dari kejauhan. Bahkan, saat cuaca cerah dan pemandangan di Singapura bisa terlihat jelas, ia akan mengabadikannya sebagai latar belakang foto. Jika tidak dengan berswafoto, ia akan minta suaminya mengambilkan foto dirinya dan anaknya.

“Lumayan, untuk pamer ke saudara di Selatpanjang,” kata Mardiana sambil terkekeh, saat dijumpai SINDO BATAM di kawasan pantai tersebut.

Menurutnya, foto-foto tersebut akan dikirimkannya melalui media perpesanan kepada kerabatnya tersebut. Atau jika tidak, beberapa koleksi akan diunggah ke berbagai akun media sosial (medsos) miliknya.

“Sekarang enak, foto sudah bisa langsung kita upload dari sini (Tanjungpinggir), sinyalnya sudah bagus. Kalau dulu, jangankan mau upload foto (ke medsos), jaringan telepon saja bisa kena roaming,” ujar wanita yang mengaku hobi jalan-jalan tersebut.

Ia bercerita, dulu saat liburan ke pantai itu, ponselnya beberapa kali terkena luapan sinyal dari operator telekomunikasi Singapura. Ponselnya terkena layanan jelajah atau roaming internasional. Padahal, dia dan ponselnya berada di Batam.

“Kalau sudah begitu, pulsa pasti tersedot,” kenangnya.

Kondisi tersebut, kata ibu satu anak itu, membuatnya tidak nyaman. “Bukan saya saja, kadang pengunjung lain juga mengeluh serupa,” tuturnya.

Namun untungnya, sejak beberapa tahun terakhir keluhan terkena roaming saat berada di pesisir Tanjungpinggir kian berkurang. Bahkan, menurut ibu satu orang anak itu, kualitas sinyal dari operator telekomunikasi dalam negeri kini makin baik.

“Malah sekarang sudah 4G (teknologi telepon seluler generasi keempat, red),” ujar Mardiana sembari memperlihatkan layar ponselnya.

Selain Mardiana, keluhan serupa pernah dialami Zainudin, warga Tanjungsengkung, Kecamatan Batuampar, Kota Batam. Kawasan Batuampar juga menghadap langsung ke Selat Singapura.

Zainudin mengaku, sinyal operator seluler dari  negeri jiran Malaysia kerap menyapa ponselnya. Biasanya, saat tersangkut roaming internasional ia mendapat notifikasi berupa pesan singkat atau short message service (SMS). “Bunyinya, selamat datang di Singapura. Padahal saya di sini (Batam),” kenang Zainudin.

Jika sudah begitu, bapak dua orang anak itu mengaku kesulitan berkomunikasi. Padahal, ia yang merupakan pedagang makanan, biasanya kerap dihubungi pelanggan yang meminta diantarkan pesanan makanan. “Kata pelanggan saya, (saat terkena raoming internasional, red) ponsel saya susah ditelepon,” terangnya.

Namun, sambungnya, selama empat tahun terakhir keluhan tersangkut roaming itu mulai hilang. “Kayaknya enggak pernah lagi. Kita pun “merdeka” dari “penjajahan” sinyal Singapura,” katanya, sembari tertawa.

Pulau Batam yang berbatasan dengan dua negara tetangga, Singapura dan Malaysia memang rentan terkena kebocoran sinyal antarnegara. Luapan sinyal ini sebelumnya memang dikeluhkan beberapa warga yang tinggal di wilayah pesisir yang berhadapan langsung dengan Selat Singapura, yang merupakan laut pemisah antara Indonesia dengan Singapura dan Malaysia. Antara lain, warga di Kecamatan Sekupang, Kecamatan Batuampar, Kecamatan Nongsa dan kecamatan di hinterland, yakni Belakangpadang.

Padahal, luapan atau kebocoran sinyal dari operator satu negara ke negara lainnya, merupakan hal yang tak boleh terjadi. Pasalnya, selain merugikan pelanggan telekomunikasi seluler di negara lain, luapan sinyal juga mengganggu kedaulatan suatu negara dalam bidang telekomunikasi.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) RI, Rudiantara saat bertandang ke Batam, beberapa waktu lalu menegaskan tidak boleh ada kebocoran sinyal di wilayah perbatasan.

“Karena itu (luapan sinyal) kan tidak boleh. Kalau di Batam sempat kejadian itu, sangat mungkin orang Singapura mendapat sinyal Indonesia,” kata Rudiantara, saat dijumpai SINDO BATAM di kawasan Turi Beach Nongsa, Batam.

Rudiantara mengatakan, untuk mencegah adanya luapan sinyal itu, tiga negara yakni Indonesia, Singapura dan Malaysia serius menanganinya lewat berbagai pertemuan intensif. Koordinasi itu melibatkan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mewakili Indonesia, kemudian Singapura melalui Infocom Development Authority (IDA) of Singapore, dan Malaysia melalui Malaysian Communications And Multimedia Commission (MCMC).

“Saya enggak kena spill over (luapan sinyal, red), ada pertemuan rutin antara Kementerian Indonesia dengan IDA dari Singapura, dengan MCMC dari Malaysia membahas hal ini,” ujarnya.

Menurut Menteri, dalam koordinasi tiga negara, masing-masing pihak diminta memastikan seluruh perusahaan telekomunikasi dari tiga negara untuk menjaga kekuatan dan keandalan sinyal telekomunikasi selulernya. Tujuannya, agar sinyal dari masing-masing negara tidak menjelajah negara lain, sekaligus tidak kemasukan sinyal dari negara luar.

“Power (kekuatan jaringan, red) dijaga. Sama, di Singapura juga (diminta) begitu,” jelasnya.

Salah satu operator telekomunikasi dalam negeri yang langsung berbenah agar tak ada luapan sinyal di wilayah pesisir dan perbatasan Batam adalah Telkomsel.

Beberapa waktu lalu, Manager Network Service Telkomsel Batam Andi Suapril mengatakan, masuknya sinyal operator seluler luar negeri ke beberapa lokasi di pesisir Batam memang menjadi konsen dari Divisi Network Telkomsel sejak dua hingga tiga tahun lalu. Beberapa upaya terus dilakukan Telkomsel untuk mengakhiri roaming internasional agar tak lagi menimpa pelanggannya.

“Kita mengekspansi jaringan dengan pembangunan BTS (Base Transceiver Station) baru. Juga menjaga keandalan network (jaringan) dengan mengutamakan kualitas dan availability site (ketersediaan situs),” ujarnya.

Ia tak memungkiri, roaming internasional akan terjadi jika tidak adanya sinyal Telkomsel di wilayah tersebut, sementara sinyal luar negeri terdeksi oleh ponsel pelanggan. Atau, sambungnya, terjadi gangguan jaringan di tower BTS terdekat dari lokasi sehingga menyebabkan sinyal hilang.

“Untuk itu, kita berupaya memperkuat jaringan dengan melakukan ekspansi BTS-BTS baru di wilayah perbatasan langsung dengan luar negeri,” ujarnya.

Untuk di Batam, beberapa titik yang dilakukan ekspansi seperti di Tanjungpinggir dan Tanjungriau yang masuk Kecamatan Sekupang, Tanjungsengkuang di Kecamatan Batuampar, Kecamatan Nongsa, Kecamatan Belakangpadang dan pulau-pulau kecil terluar Indonesia. Seperti, Pulau Nipah, Pulau Terong dan pulau terluar lainnya.

Bahkan, Andi mengatakan untuk layanan data yang diberikan Telkomsel di wilayah pesisir, tidak dibedakan dengan layanan di dalam kota. Masyarakat pesisir dan tepi pantai Batam juga dapat menikmati layanan generasi keempat long term evolution (4G LTE) Telkomsel.

“Kalau untuk sinyal 3G (generasi ketiga, red) Telkomsel, sudah merata untuk semua lokasi di Pulau Batam dan sekitarnya,” katanya.

Andi menjelaskan, untuk penambahan jangkauan layanan 4G Telkomsel, akan disesuaikan dengan kebutuhan dari pelanggan. Bahkan saat ini, pembangunan BTS lebih diutamakan yang 4G.

“Telkomsel akan melihat permintaan pelanggan pada lokasi yang sudah ada, seberapa besar penggunaan data pelanggan dan jumlah handset 4G yang tersebar di wilayah tersebut,” jelas Andi.

Meski begitu, Andi mengatakan sejauh ini sudah ada peningkatan jumlah pelanggan 4G Telkomsel di wilayah pesisir Batam. “Peningkatannya hingga 40 persen dibanding tahun lalu,” katanya.*

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com