SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Flyslab, Produk Penunjang Konstruksi Masa Depan Ciptaan Anak Negeri

  • Reporter:
  • Selasa, 2 Juli 2019 | 08:18
  • Dibaca : 457 kali
Flyslab, Produk Penunjang Konstruksi Masa Depan Ciptaan Anak Negeri

BETON temuan insinyur asal Batam ini lebih ringan separuh dari berat beton biasanya. Produk satu-satunya di dunia, dipakai gedung-gedung di Mekkah, Arab Saudi.

Reni Hikmalia, BATAM

Produk inovasi penunjang konstruksi buatan anak negeri kini telah mendunia. Adalah Flyslab, produk beton untuk konstruksi ciptaan Sulistyana, ahli konstruksi asal Batam. Selain unggul karena bahannya kuat dan kokoh, Flyslab juga diklaim lebih efisien karena hemat tenaga saat pembangunan. Tak heran, Flyslab bahkan digunakan untuk salah satu pembangunan gedung di Makkah, Arab Saudi. 

Berada di kantornya di Kantor Puri Khayangan, Batam Center, Sulistyana, selaku Direktur PT Kinarya Beton Indonesia menceritakan produk Flyslab ini penemuannya sendiri yang tulisnya di tesis atau karya ilmiah sebagai laporan ujian akhir untuk mendapatkan gelar strata dua (S2). 

Flyslab merupakan produk pracetak dari plat beton panel seluler yang merupakan plat beton ringan dengan memakai beton mutu tinggi K-400 dan besi tulangan U-39. Reduksi massa Beton Flyslab mencapai 50 persen dibandingkan plat beton masif atau konvensional, sehingga penggunaan Flyslab sangat menguntungkan pada bangunan bertingkat, baik dari struktur bangunan maupun manajemen konstruksi.

“Flayslab itu suatu merek dari produk pracetak dari plat beton. Artinya plat lantai itu kita cetak di workshop kemudian kita bawah ke lokasi projek lalu kita pasang,” katanya, Jumat (28/6). 

Bagi seseorang yang ingin membuat bangunan bertingkat, adanya Flyslab ini dapat memberikan solusi karena membuat pekerjaan menjadi simpel dan cepat. Selain memakai Flyslab ada cara konvesional dalam membuat plat lantai bangunan bertingkat yakni lantai tersebut dicor namun cara tersebut membutuhkan persiapan, bahan yang banyak. 

“Biasanya manual itu lantainya dicor dilapangan, besinya di anyam. Itu sudah tidak efisien untuk sekarang dan masa akan datang, itu cara konvensional,” ujarnya. 

Menurut pengamatannya, terdapat perbedaan cara konvesional dan menggunakan Flyslab. Cara konvesional membutuhkan waktu yang lebih lama untuk membuat plat lantai, membutuhkan tenaga kerja lebih banyak, persiapan pengecoran, sebelum dilakukan pengecoran terdapat besi yang dianyam, alat-alat selama pengecoran juga selalu siap di lapangan. Berbeda jika memakai Flyslab, alat-alat sudah dicetak di workshop, terjamin mutu dan kekuatannya, dan lokasi pemasangannya bersih. 

Selain terjamin kekuatan dan kebersihan lokasi pemasangan, kelebihan lainnya dari sisi waktu lebih efisien, sisi tenaga kerja proyek sedikit. “Tukang proyek sekarang di Indonesia makin kurang, seiring makin meningkatnya pendidikan masyarakat orang yang bercita-cita menjadi tukang berkurang. Maka flayslab menjadi solusi,” terangnya. 

Ia menceritakan sebelumnya ada pemerhati lingkungan hidup yang memberikan apresiasi berkenaan Flyslab temuannya tersebut. Pemerhati lingkungan tersebut mengatakan kepadanya Flyslab ini bisa mengurangi sampah atau tidak sampah proyek karena tidak ada kayu yang dipakai, lalu tempat bersih tidak ada sampah. Bagi pemerhati lingkungan ini disebut green atau ramah lingkungan. Jadi sistem plat lantai ini diaplikasikan dibangunan bertingkat lebih ramah. 

Terpenting fixed budget atau anggarannya pasti. Karena dihitung permeter persegi. Kalau luasannya 1.000 permeter persegi. Biaya plat lantai 1.000 kali unit permeter persegi. Angka itu sudah fixed sedangkan konvensional angka tersebut pasti ada variabel toleransi atau tidak pasti. 

“Kalau orang menganggarkan menjadi pasti luasan kali harga satuan meter persegi. Kita memberikan juga servis termasuk pemasangan. Tim kita yang melakukan pemasangan sudah familiar cepat dan akurat,” jelasnya. 

Kemudian luasan Flyslab tersebut menyesuaikan dengan yang di lapangan karena bangunan setiap berbeda. Sebelumnya timnya tersebut pastinya ada koordinasi, baru dicetak dan orang lapangan koordinasi waktu delivery, dan sebagainya. Kelebihan lainnya plat lantai ini secara teknis lebih ringan 40 persen dibandingkan plat beton lainnya namun kekuatan sama. 

Ia menyampaikan Flyslab merupakan produk satu-satunya di dunia. Produk ini sebelumnya menjadi laporan tesisnya pada program Magister Universitas Diponegoro, Jawa Tengah. Alasannya mengambil ide tersebut karena faktor efisiensi sebuah bangunan. 

Saat itu ia berkeinginan untuk menjadikan hasil laporan tugas akhir tersebut sebuah karya yang bisa dinikmati masyarakat. “Kalau kita reset asal reset yang tidak teraplikasi bagus tetapi selesai di laporan saja. Atau aplikasi mungkin sulit atau perlu alat bantu yang sulit akhirnya hasil reset tidak dirasakan di masyarakat,” ucapnya.

Elemen bangunan terdiri dari pondasi, balok, kolom, tiang, plat lantai, dan sebagainya. Setelah ia mempelajari dari elemen bangunan tersebut elemen mana yang bisa dirasakan masyarakat pengaruh dari efisiensi selama membangun. 

“Elemen sipil setelah saya amati yang paling efisien kalau buat dibuat resert plat lantai. Volume beton didalam gedung bertingkat paling dominan. Maka kita bisa efisien elemen ini pastinya pengaruhnya terhadap efisiensi kekuatannya costing nya, dan waktu pengerjaannya,” ungkapnya.

Ia memulai resetnya tersebut dari tahun 2008 hingga 2010. Hasil karyanya tersebut mendapat apresiasi pastinya dari penguji tesis. “Dapat nilai A. Penguji waktu itu ada 5 salah satunya pembimbing mereka mengapresiasi hasil reset ini. Tetapi waktu itu dosen masih belum membayangkan barang tersebut. Karena masih teori walaupun teori tersebut dalam tesis sudah dibuat sampel-sampel yang sudah diuji laboratorium dan dibuktikan teori ini benar,” katanya. 

Setelah lulus, reset tersebut dilanjutkannya atau detail reset. Setelah selesai, lalu didaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia. Dengan melalui proses panjang memakan waktu 36 bulan akhirnya mendapat hak paten dan berlaku internasional atas nama dirinya.

Barulah ia mulai memperkenalkan kepada masyarakat tentang produknya tersebut, mulai dari Kota Batam dan Kota Salatiga. Selama melakukan riset, ia sudah mencetak plat lantai tersebut dan hasil cetakkannya dimanfaatkan membuat bangunan di Salatiga dan hingga kini bangunan tersebut masih ada. 

“Karena saya tahu barang ini jadi saya tidak pernah ragu. Masyarakat waktu itu masih banyak tanda tanya namun kami tidak memaksakan kepada masyarakat produknya bagus karena ini mengubah kebiasaan. Namun kami konsisten terus, tidak membutuhkan waktu lama sudah banyak dikenal,” ucapnya.

Lokasi pabrik di Batam berada di kawasan industri di Sekupang . Flyslab ini sudah dikenal di Indonesia maupun internasional. Flyslab yang sudah dipakai diberbagai gedung, ia menceritakan sebelumnya diakhir 2018 lalu ada Konsultan dari Jakarta yang menghubunginya ia merupakan Konsultan Gedung Markas Komando 3 Angkatan Laut Indonesia di Sorong, Papua Barat. Konsultan tersebut sudah mengetahui Flyslab dari internet. 

“Mereka (konsultan) tahu dari internet tentang Flyslab. Mereka juga paham kesulitan di sana soal tenaga kerja dan sebagainya akhirnya putusan pakai prodak efisien dan kuliatas terjaga akhirnya pakai Flyslab,” terangnya. 

Masih 2018, ia diundang untuk datang ke Kota Bandung, Jawa Barat diminta mempresentasekan Flyslab. Ia mengatakan ia mempresentase temuannya tersebut dihadapan developer yang membangunan bangunan di Makkah, Arab Saudi. Sebelumnya tim teknis developer tersebut mendapatkan informasi tentang Flyslab dan mempelajarinya dari internet. 

“Kebetulan ada teman yang kenal saya. Teman-teman alumni ITB Bandung. Saat saya presentasi itu tim disana sudah kenal Flyslab dari internet. Saat presentasi juga sama-sama orang tehnik jadi enak,” jelasnya.

Akhirnya saat itu juga, proyek itu langsung disetujui dalam arti teknisnya memakai Flyslab. Sejak saat itu terus terjalin silaturrahmi. “Mulai dari itu ada komunikasi dari bosnya saling visit tim teknisnya juga melihat workshop di Batam, bangunan yang menggunakan Flyslab seperti di Jakarta, Semarang,” ucapnya. 

Akhirnya proyek tersebut ada kesepakatan kerjasama artinya untuk seluruh kebutuhan bangunan 9 tower yang 1 tower 34 lantai. Gedung tersebut kombinasi antara parkir, 4 lantai di atas fasilitas umum mall, rumah sakit dan lantai di atas berupa unit hunian

“9 tower ini dikasih nama wali sembilan. Perencanaanya untuk pondokan jamaah haji dari Indonesia. Mall nya juga dipakai etalase produk Indonesia,” sebutnya

Kemudian di proses mengenai standar izin bangunan. Izin memakai produk Flyslab akhir tahun lalu, seluruh dokumen Flyslab sudah didaftarkan di Arab Saudi. Dan kabar baiknya lisensi Flyslab sudah terbit artinya bisa diproduksi di Arab Saudi. 

“Dalam perjanjian kami tidak hanya di Saudi Arabia tetapi untuk negara Timur Tengah. Perkiraan pembangunan towernya akhir tahun ini,” terangnya. 

Pembangunan tower tersebut memakan waktu tiga tahun, ia berharap pembangunan berjalan dengan baik dan lancar. Flyslab ini sebuah prodak masa depan dan makin dicari orang. Biaya untuk tenaga proyek setiap tahun naik, ini salah satu pertimbangan di Arab Saudi menpower nya terbilang mahal. 

“Kalkulasi kami pemakaian Flyslab untuk bangunan gedung bertingkat banyak bisa menghemat menpower 30 persen dari. jumlahnya. Misalnya pakai 100 orang, ini 70 orang cukup dengan speed bagus. Ini sebuah produk masa depan,” pungkasnya. ***

 

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com