SINDOBatam

Terbaru Metro+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

BP Batam Mulai Hitung Aset ATB

  • Reporter:
  • Jumat, 12 Oktober 2018 | 10:38
  • Dibaca : 144 kali
BP Batam Mulai Hitung Aset ATB
Karyawan ATB memeriksa suplai air di waduk Duriangkang. /AHMAD ROHMADI

SEIBEDUK – Badan Pengusahaan (BP) Batam mulai melakukan penghitungan nilai aset PT Adhya Tirta Batam (ATB) untuk dikembalikan kepada negara, jelang berakhirnya konsesi pengelolaan dan distribusi air bersih pada 2020 mendatang.

Deputi Bidang Pengusahaan Sarana Lainnya BP Batam, TNI Eko Budi Soepriyanto mengatakan, penghitungan aset ini dilakukan sebelum tahapan proses tender atau lelang terbuka pengelolaan air di Kota Batam dimulai.

Penghitungan aset ini tidak hanya dilakukan oleh BP Batam sediri, tapi juga bersama dengan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN). Aset yang dihasilkan selama konsesi berjalan nantinya akan menjadi aset negara.

“Saat ini dari DJKN masih menghitung. Setelah itu semua selesai nanti baru kami mulai tahapan proses tender ulang,” ujarnya di Kantor BP Batam, Kamis (11/10).

Ia menambahkan, BP Batam akan membuka lelang secara terbuka, meskipun kinerja ATB selama ini sudah cukup memuaskan dalam mengelola air di Batam. Namun pihaknya ingin mendapatkan yang terbaik, sehingga ke depan diharapkan pengelolaan air bisa lebih baik dari yang sudah dikerjakan ATB selama ini.

Pengelolaan air saat ini tengah menjadi primadona perusahaan-perusahan besar, tidak hanya dalam negeri tapi juga tidak sedikit perusahaan asing yang tertarik ingin mengelola air di Batam. Itu sebabnya BP Batam berharap pemenang tender nantinya merupakan perusahaan yang terbaik, tidak hanya yang memiliki pengalaman saja tapi juga memiliki modal yang besar.

“Jadi banyak yang siap menjadi pesaing ATB. Yang ingin mengelola air di Batam,” ujarnya.

Kepala Kantor Pengelolaan Air dan Limbah BP Batam, Binsar Tambunan mengatakan, proses tender dilakukan sesuai dengan mekanisme dan aturan yang ada. Saat ini diperkirakan ada sekitar lebih dari 22 perusahaan swasta yang siap menjadi pesaing ATB. Siapapun pemenang ke depan, sambungnya, pelayanan kepada masyarakat dan pengelolaan air bersih di Batam harus kebih baik dari saat ini.

Tahapan saat ini, BP Batam bersama pemerintah pusat sedang melakukan penghitungan nilai aset-aset yang dimiliki ATB. Untuk menyelesaikan penghitungan aset tersebut diperkirakan membutuhkan waktu minimal satu tahun. Sehingga proses yang panjang ini baru akan selesai sebelum proses tender dibuka.

“Aset yang dimiliki ATB saat ini diperkirakan mencapai Rp1 triliun lebih. Dihitung sejak konsesi air dimulai 1995 lalu hingga saat ini. Bentuk asetnya seperti apa, itu yang sedang kami hitung,” katanya.

Setelah penghitungan nilai aset selesai, aset akan dikembalikan lagi ke pemerintah. Sebelum dikembalikan kepada pemerintah, pihaknya perlu memastikan bahwa aset-aset tersebut masih dalam keadaan normal serta masih bisa digunakan.

“Seperti orang sewa rumah lah. Dikembalikan, tapi rumah tetap dalam kondisi baik. Setelah itu kami tender lagi,” kata Binsar.

Selain penghitungan nilai aset, saat ini juga masih menunggu penetapan dari pemerintah terkait penanggung jawab proyek kerja sama (PJPK). Apakah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) atau BP Batam. Pihak BP masih melakukan koordinasi dengan pemerintah pusat.

Binsar menjelaskan, untuk pengelolaan air ke depan nantinya tak sepenuhnya akan dilakukan swasta dari hulu ke hilirnya. Dua bagian itu akan dipisah. Dari tujuh instalasi pengolahan air yang ada di Batam saat ini, diperkirakan akan dipilih satu atau dua pengelolanya. “Intinya nanti tak sepenuhnya diserahkan ke swasta. Tapi untuk hulu dan hilir, boleh kerja sama dengan swasta,” ujarnya.

Sebelumnya, dua perusahaan asing asal China State Construction Engineering dan China Railway Engineering menyatakan tertarik untuk ikut tender pengelolaan waduk Tembesi. Meskipun selama ini keduanya bergerak di bidang industri jasa konstruksi, dua perusahaan BUMN China tersebut menyatakan akan mulai merambah usaha di bidang pengeloaan air.

Deputi Bidang Pengusahaan Sarana Usaha Lainnya BP Batam Eko Budi Soepriyanto mengatakan, jumlah perusahaan yang minat untuk pengelolaan waduk Tembesi terus bertambah. Meskipun tahapan proses tender baru akan dimulai pertengahan Oktober ini, tapi pihaknya mencatat sudah ada 24 perusahaan swasta dari dalam dan luar negeri yang siap bersaing.

“Terbaru dua perusahaan China itu. Mereka tertarik, karena air saat ini menjadi primadona. Jadi juga banyak perusahaan yang biasanya tidak bergerak di bidang itu sudah mulai merambah ke dalam pengeloaan air,” kata Eko, Senin (8/10).

Eko menjelaskan pihaknya tidak mempermasalahkan perusahaan asing ikut serta proses tender ini. Hanya saja ia mengingatkan setiap penanam modal asing (PMA) wajib menggandeng perusahaan lokal. Hal ini sesuai dengan aturan yang berlaku di Indonesia. Sehingga hal itu juga yang akan diterapkan atau menjadi salah satu persyaratan utama.

Selain dua perusahaan asal China tersebut juga ada beberapa perusahaan dari negara tetangga lainnya, di antaranya ada dari Jepang yaitu Yokohama Water, dan kemudian dari Filipina, Manila Water. Sedangkan lokal ada PT Adhya Tirta Batam (ATB), Salim Grup dan perusahaan-perusahaan lainnya yang sudah memiliki banyak pengalaman di bidangnya. ahmad rohmadi

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com