SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Imbas Virus Korona, Pengamanan di Pintu Masuk Terus Diperketat

  • Reporter:
  • Senin, 24 Februari 2020 | 11:07
  • Dibaca : 68 kali
Imbas Virus Korona, Pengamanan di Pintu Masuk Terus Diperketat
Petugas KKP Batam memantau alat thermal scanner yang dipasang di pintu masuk Pelabuhan Feri Internasional Batam Centre, belum lama ini. f arrazy aditya

BATAMKOTA – Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Batam terus meningkatkan pengamanan di setiap pintu masuk cegah masuknya virus Korona. Salah satunya memantau perkembangan status Virus Korona di negara tetangga, Singapura dan Malaysia.

Pengamanan kesehatan di pelabuhan-pelabuhan di Kota Batam tergantung pada status “disease outbreak response system condition (dorscon)” COVID-19 di Singapura.

“Prosedurnya, tergantung skala di sebelah (Singapura). Kalau di sana eskalasi meningkat, kami lebih ketat lagi,” kata Kepala KKP Kelas I Batam, Achmad Farchanny, kemarin.

Ia menjelaskan, sekitar dua pekan yang lalu, pemerintah Singapura menaikan level dorscon dari kuning ke jingga, dan pemerintah pun memperketat pengamanan kesehatan di pelabuhan-pelabuhan di Batam.

Peningkatan pengamanan kesehatan, lanjut dia, dilakukan melalui “health alert card” yang dibagikan kepada seluruh penumpang dari Singapura dan Malaysia yang akan memasuki Indonesia, melalui Batam.

“Semua orang yang datang dari Singapura dan Malaysia harus mengisi ‘health alert card’ dengan lengkap dan benar di atas kapal, dan menyerahkan kepada petugas karantina,” ujarnya.

Petugas akan memastikan seluruh penumpang telah mengisi kartu siaga kesehatan itu dengan lengkap dan benar. Petugas juga memastikan bahwa tidak ada penumpang yang memiliki riwayat perjalanan ke China dataran. Setelah itu, baru penumpang dapat memasuki pelabuhan, dengan melewati alat pendeteksi suhu tubuh (thermal scanner).

Menurut dia, kartu siaga kesehatan itu amat membantu proses pemantauan setiap penumpang yang baru memasuki Indonesia. Apabila ada penumpang yang sakit lalu pergi berobat ke klinik kesehatan menggunakan kartu itu, maka petugas bisa dapat menelusuri perjalanan dan menentukan penanganan yang tepat.

Selama ini, kata dia, sudah ada beberapa penumpang yang mengeluhkan sakit, pergi ke Puskesmas atau klinik terdekat, dan mendapatkan penanganan yang baik. Dan hingga kini pun, belum ada satu pun WNA maupun WNI yang dinyatakan positif COVID-19 di Batam.

“Alhamdulillah, dengan pengembangan itu kami bisa tahu kesehatannya ‘day per day’. Kemudian, yang memang harus laboratorium ke jakarta, langsung dilakukan uji. Semua yang kami periksakan laboratprium ke Jakarta, hasilnya negatif,” kata dia.

Wali Kota Batam Muhammad Rudi mengatakan isu Korona terus dipantau. “Isu Korona belum selesai. Terutama di tetangga kita. Semakin hari semakin banyak dikeluarkan aturan baru,” katanya.

Sebagai daerah yang relatif dengan dengan Singapura, ia mengatakan pemerintah harus melancarkan sejumlah upaya antidipatif. “Kami minta untuk preventif, di pelabuhan diperketat” kata Rudi.

Tak Ada Larangan ke Luar Negeri

Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Batam dan Kepri paska wabah virus Korona mengalami penurunan. Begitu juga sebaliknya, kunjungan warga Indonesia ke Singapura dan Malaysia juga mengalami hal yang sama.

Untuk Batam khususnya dan Kepri pada umumnya, sempat beredar rumor warga Indonesia dilarang berpergian ke luar negeri. Hal tersebut dibantah oleh Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Kepri Buralimar.

“Kebijakan pemerintah untuk pelarangan berpergian ke luar negeri belum dikeluarkan,”ujarnya.

Menurut dia, pelarangan ke luar negeri tidak ada ada dikeluarkan pemerintah, namun hanya imbauan untuk mengurangi berpergian ke luar negeri. Hal tersebut juga erat kaitannya agar WNI jangan sampai terdampak virus Korona.

“Demikian pula halnya dengan wisatawan mancanegara atau wisman, sejauh ini belum dikeluarkan. Hanya saja, pemerintah Indonesia melalui dinas kesehatan telah dipersiapkan di pintu masuk baik bandara maupun pelabuhan laut,” ujarnya.

Dijelaskannya bahwa sejak Januari hingga saat ini, memang ada penurunan kunjungan wisman ke Batam maupun di Kepri. Di mana biasanya menjelang Imlek setiap tahun ada peningkatan kunjungan. “Pada Imlek kemarin ada tapi tak signifikan, memang paska Imlek menurun mungkin penurunan itu dampak dari virus Korona,” ujarnya.

Buralimar mengklaim, kunjungan wisatawan mancanegara atau wisman ke Kepri tahun 2019 memenuhi target. Sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). “Yang tercapai adalah 2,8 juta orang. Dan kunjungan wisman ke kepri nomor dua setelah Provinsi Bali,” ujarnya.

Angka 2,8 juta itu melebihi target RPJMD 2,3 juta. Namun tidak tercapai secara nasional yang ditargetkan Pemerintah pusat ke Kepri 3,5 juta. “Kunjungan tahun 2019 jika dibandingkan 2018 lalu ada peningkatan. 2018 kunjungan 2,6 juta, target nasional 3 juta dan RPJMD 2,3 juta,” tutupnya.

Korona Ancam Industri Manufaktur

Ketua Apindo Kota Batam, Kepri, Rafki Rasyid mengatakan, dampak wabah virus Korona dalam jangka panjang bakal mengancam industri manufaktur di Kawasan Perdagangan Bebas Pelabuhan Batam, yang masih bergantung pada bahan baku dari China.

“Jika isu virus corona ini masih bertahan sampai enam bulan ke depan, bisa dikatakan bahwa sektor manufaktur akan mulai terkena dampaknya,” katanya.

Selain karena kesulitan mengimpor bahan baku, ia mengatakan kekhawatiran lain dari wabah virus Korona adalah penurunan permintaan global. Ia mengatakan, apabila terjadi permintaan hasil produksi manufaktur secara global, maka Batam akan mendapatkan dampak negatif yang cukup besar. “Karena produk dari Batam diperuntukkan untuk pasar global,” kata Rafki.

Bahkan, apabila dampak itu terus berlanjut, maka berakibat pada pengurangan jumlah pekerja. Meski begitu, menurut dia, untuk saat ini, isu COVID-19 belum memengaruhi industri manufaktur setempat secara masif dan kronis.

Memang, katanya, sudah ada sejumlah perusahaan yang menyampaikan kesulitan mendapatkan bahan baku, terutama dari China. “Perusahaan manufaktur di Batam masih berjalan relatif normal saat ini,” ujarnya.

Mengenai isu adanya karyawan yang belum menerima gaji akibat melemahnya industri terkait virus Korona, ia mengatakan belum mendengarnya.

“Kalau pun ada mungkin kasusnya tersendiri dan berbeda bukan akibat isu virus Korona,” katanya.

Dalam kesempatan itu, ia mengakui, isu virus Korona mulai terasa pengaruhnya pada perekonomian Batam khususnya sektor pariwisata yang terkena dampak secara langsung.

ahmad rohmadi/dicky sigit rakasiwi/ant

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com